Kamis, Maret 14, 2013

Operasi Pembebasan Mussolini

Benito Mussolini dalam masa kejayaannya, tak lama setelah naik ke tampuk kekuasaan di tahun 1922. Disini dia sedang mengunjungi pasukan Bersaglieri Italia yang sedang berperang di Ethiopia, dengan komandannya jenderal Alessandro Pirzio Biroli. Akhir dari hidupnya begitu mengenaskan : digantung terbalik di lapangan kota Milan, diludahi, ditendangi dan dihancurkan mukanya sampai tak terbentuk!


SS-Hauptsturmführer Otto Skorzeny, sang penolong Mussolini dalam Operasi penyelamatan di Gran Sasso. Begitu berharganya manusia satu ini, sehingga ketika perang usai jasanya dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang dulu merupakan musuh beratnya!


Sebelum operasi dimulai, Skorzeny menggembleng timnya dengan sepenuh hati agar menjamin hasil yang diraih tidak mengecewakan. Disini dia sedang melapor kepada panglima Fallschirmjäger, Jenderal Kurt Student. Sebagian besar anggota operasi ini memang diambil dari Fallschirmjäger-nya Luftwaffe, sementara Skorzeny sendiri berasal dari SS!


Tipikal dari seragam Fallschirmjäger anggota tim Skorzeny yang ditugaskan dalam operasi di Gran Sasso. Setelah kesuksesan operasi ini, mesin propaganda Goebbels memutuskan untuk mengadakan rekonstruksi penyelamatan Mussolini, dan prajurit satu ini termasuk yang ikut di antaranya. Operasi militer di Gran Sasso juga menandai penggunaan untuk pertama kalinya senjata yang khusus dipersembahkan untuk Fallschirmjäger, Fallschirmjägergewehr-42 (FG-42), seperti yang disandang di punggung prajurit di atas


Benito Mussolini berfoto bersama para penolongnya. Di sebelah kirinya adalah Hauptmann Gerhard Langguth dan Major Otto-Harald Mors dari Fallschirmjäger. Wajah pelawak dengan helm para yang nongol di antara Mors dan Mussolini kemungkinan besar adalah ajudan dari Otto Skorzeny, SS-Obersturmführer Karl Radl. Lah, Skorzenynya mana? Katanya minta izin dulu sebentar buat buang hajat di hotel!


Otto Skorzeny bersama dengan Benito Mussolini dan para "hulubalang" sedang menuju ke pesawat Fieseler Fi 156 "Storch" yang akan membawa mereka terbang dari Gran Sasso. Di sebelah kanan dari Mussolini adalah Jenderal Ferdinando Soleti, pengikut setia Mussolini


Hauptmann Heinrich Gerlach, sang pilot jagoan yang menerbangkan Fieseler "Storch" walaupun kelebihan muatan, dengan Mussolini yang gendut dan Skorzeny yang raksasa di dalamnya! Wajarlah untuk menghargai pencapaian luar biasa yang telah dilakukannya, Wehrmacht menganugerahinya dengan Ritterkreuz


Kalau anak buahnya saja mendapat Ritterkreuz, apalagi gembongnya! Disini Otto Skorzeny berpose bersama pujaannya sang Führer Adolf Hitler dalam acara penganugerahan Ritterkreuz nomor 2153 di Rastenburg yang berlangsung pada tanggal 13 September 1943


Benito Mussolini, Il Duce yang pernah menjadi diktator yang sangat ditakuti, adalah laki-laki angkuh dan pemurung. Ketika berhasil menguasai Italia dan beberapa negara jajahannya, namanya bergema di seluruh daratan Eropa selama lebih dari satu dasawarsa. Dengan dukungan kaum Fasis yang senantiasa mengenakan baju hitam, ia membawa Italia menuju kancah peperangan dahsyat. Kekuasaannya mulai ambruk ketika Perang Dunia II pecah dan Tripoli jatuh pada tahun 1943. Para jenderal Italia yang menyadari bahwa perang telah berakhir, menuntut agar Il Duce segera menciptakan perdamaian. Namun, terpengaruh oleh mimpi-mimpi dahsyat sekutu setianya, Adolf Hitler – yang pernah berjanji akan mengembalikan kejayaannya – Mussolini membiarkan perang terus berlanjut. Dalam suatu sidang yang berlangsung sengit bulan Juli 1943, Majelis Tinggi Italia memutuskan pemecatan dan penahanan Mussolini, berdasarkan pemungutan suara 28 lawan 19. Count Galeazzo Ciano, menantu Mussolini yang juga Menteri Luar Negeri, termasuk yang memberikan suara bagi penahanan sang diktator! Namun ia harus membayar mahal dengan nyawanya, meskipun Edda, putri Mussolini, berusaha mati-matian membelanya.
Diktator itu dihadapkan pada raja Italia. Mussolini yakin dapat membujuk raja untuk membatalkan keputusan Majelis Tinggi . Ia tahu bahwa Victor Emmanuel senantiasa ketakutan menghadapinya. Namun situasi telah berubah. Dengan pucat raja menghardik Mussolini sambil menggigit kuku-kukunya, “Engkau manusia paling bengis di negeri ini!” Maka Mussolini diseret, dan dilarikan ke tempat pengasingan yang dirahasiakan.
Selama beberapa minggu berikutnya, ia digelandang dari satu penjara ke penjara lain, sampai akhirnya ia mendapati dirinya di lantai atas bekas hotel mewah di Gran Sasso, di daerah pegunungan Italia bagian tengah. Ia dijaga ketat oleh Resimen Alpini, pasukan yang ketika bertugas di Afrika Utara tak henti-hentinya bernyanyi “Bebaskan rakyat dari kekejaman Mussolini, yang telah membawa Alpini ke ladang pembantaian”. Mereka diperintahkan untuk tak segan-segan menembaknya seandainya tampak ada pihak luar yang berusaha membebaskannya. Perintah semacam itu tentu saja sangat menyenangkan mereka! Tetapi pertanyaannya : orang ‘gila’ mana yang akan mencoba menyelamatkan Mussolini?
Ternyata lokasi penyekapan Mussolini terpantau oleh intelijen Jerman. Mereka segera mengirimkan seorang dokter tentara dengan dalih bangunan itu akan digunakan untuk rumah sakit militer sementara. Ketika sang dokter baru sampai di kaki pegunungan, sekelompok prajurit Alpini mencegat dan menyuruhnya kembali. Tindakan inilah yang membuatnya yakin bahwa Mussolini memang disekap disana. Dengan cepat ia menghubungi Berlin. Staff Jenderal Jerman menghadapi dilema. Mereka menyampaikan kabar itu kepada Hitler dan menambahkan bahwa operasi penyelamatan dalam bentuk apa pun mustahil untuk dilakukan! Hitler naik pitam karena anak buahnya mengeluarkan pendapat tanpa lebih dulu minta pertimbangannya. Pucat menahan marah, Führer membentak, “Aku tak peduli. Mussolini temanku harus diselamatkan!”
Dampratan Hitler membuat para jenderal membisu diam seribu bahasa.
“Tetapi, Führerku...” ujar panglima Wehrmacht Wilhelm Keitel. Ia seketika mengkerut melihat mata sang pemimpin yang memelototinya itu.
“Bebaskan dia! Secepatnya!” bentaknya lagi.
“Baik Führerku, tetapi bagaimana caranya?”
“Panggil Skorzeny!”
Ketika Hitler meninggalkan ruangan, para jenderal saling berpandangan. Skorzeny! Mengapa Führer memilih dia? Bukankah anak muda itu belum tercatat bahkan sebagai anggota korps perwira?
Skorzeny, lengkapnya SS-Hauptsturmführer (Kapten SS) Otto Skorzeny, ternyata satu-satunya prajurit yang tepat untuk melaksanakan misi teramat sulit itu. Seorang prajurit ulet dan tegar hati, yang berulang kali membuktikan dirinya sebagai “orang yang paling berbahaya di seluruh Wehrmacht”, dengan keberhasilannya sebagai pemimpin pasukan gerak cepat. Orang berdarah Austria ini semula adalah ahli teknik sipil. Begitu perang pecah, ia menjadi tokoh legendaris sekaligus mendapatkan dirinya menjadi anak kesayangan sang Führer. Dengan enggan Keitel berpaling kepada ajudannya, “Katakan kepada Hauptmann Skorzeny agar ia datang melapor segera.”
Dua puluh empat jam kemudian, Otto Skorzeny (yang hampir dua meter tingginya!) turun merunduk-runduk dari pesawat Junkers Ju 52 Luftwaffe. Ia bertanya-tanya kepada dirinya hal apakah yang membuat Marsekal Keitel memanggilnya. Perintah yang ia terima singkat dan jelas saja, tak mungkin lagi mengajukan pertanyaan atau membantah. “Lapor ke Berchtesgaden segera. Diulang, segera. Atas perintah Führer!” Siapa yang akan berani membiarkan sang Führer menunggu? Tentara bayaran yang independen semacam dia pun tidak. Dalam sekejap ia akan bertatap muka dengan Hitler. sekedar membayangkannya pun hatinya gentar. Adakah seseorang yang ingin bertemu dengan Adolf Hitler? Perangainya sangat cepat berubah. Suatu kali ia berbicara penuh humor, tetapi detik berikutnya ia seperti orang sakit ingatan, tak bisa lagi mengendalikan emosinya! Lagipula, Skorzeny membenci kue berlapis gula yang lengket, yang agaknya merupakan satu-satunya cemilan kesukaan Hitler. Sekalipun ia muda, sehat, dan tak pernah gugup, namun masih saja merasa ngeri melihat sang Führer menelan pil dan obat penenang selama mereka berbicara!
“Heil Hitler!” tegap Skorzeny menghentakkan tumit sepatunya dan mengangkat tangannya sebagai tanda hormat Nazi. Dengan malas lelaki berwajah letih dan berpunggung bungkuk itu membalas penghormatan Skorzeny. Kilatan matanya membuat orang bagaikan tersihir.
“Aku ingin Mussolini dibebaskan,” ujarnya, “Karena pembebasannya akan mempengaruhi keberhasilan tujuan kita. Kita membutuhkan dia untuk mengerahkan orang-orang Italia yang masih setia kepada tujuan fasis. Bebaskan dia. Bebaskan dia secepatnya!” Hitler kemudian membalikkan punggung dan menatap tajam ke jendela kaca. Itu sebagai pertanda bahwa audiensi telah selesai.
Skorzeny segera meninggalkan ruangan dengan diikuti oleh Kolonel dari bagian intelijen yang tampak memendam kekhawatiran. Perwira itu kemudian menjelaskan rencana penyelamatan yang telah disusun dengan para jenderal Wehrmacht. Meskipun diam-diam merasa yakin bahwa rencana tersebut akan berujung pada kegagalan, mereka memberanikan diri mengharapkan sebersit cahaya keberhasilan.
Ketika Skorzeny bertanya apakah tugas yang dilimpahkan ke bahunya hanya memiliki peluang kecil saja, ia menyadari bahwa lawan bicaranya tidak mengatakan yang sebenarnya, meski jawaban yang diberikan cukup tegas, “Ya!” Ada tebing curam di dekat lembah? “Ya!” Ada landasan untuk mendaratkan pesawat terbang layang di lapangan rumput di belakang hotel? “Ya!” Apakah diperlukan seorang pilot Jerman paling cakap dalam menerbangkan pesawat layang? “Ya!” Adakah ruang cukup untuk tinggal landas? “Tidak!” Apakah pesawat akan hancur berkeping-keping bila tergelincir ke tebing? “Ya!”
Skorzeny mewajibkan dirinya sendiri untuk mengeluarkan seluruh kepandaiannya bertutur kata di depan anak buahnya dengan mengatakan bahwa misi mereka tetaplah mempunyai peluang untuk berhasil. Diam-diam mereka pun mulai bersiap-siap. Pagi hari tanggal 12 September 1943, sejumlah pesawat terbang layang ditarik ke angkasa biru yang berhias mega-mega putih.
“Itu dia!” Pilot harus berteriak agar suaranya mengimbangi deru mesin. Skorzeny, dengan mengikuti tudingan telunjuk pilot, melihat sasaran operasi – sebuah hotel mewah di ketinggian dua ribu meter, di lereng gunung. Hotel yang berdiri di lembah pegunungan itu seakan hanya ada dalam dongengan. Kereta gantung merupakan satu-satunya sarana yang menghubungkannya ke dunia luar. Di sekelilingnya Skorzeny melihat puncak-puncak bukit bersalju pegunungan Gran Sasso. Kengerian membayang di matanya.
“Benar-benar benteng yang kuat,” teriaknya. Pilot mengangguk. Ia tahu bahwa ia adalah salah satu pilot pesawat layang terbaik di Jerman. Sebelum pecah perang ia sering menerbangkan pesawat layangnya di pegunungan Harz, dan dengan gerakan spiral menuju ke daerah arus panas. Ia pernah menyabet rekor terbaik dalam ketahanan menerbangkan pesawat layang, dan menerima trofi langsung dari tangan sang Führer. Kata-kata Hitler terngiang kembali di telinganya : “Tak lama lagi kami akan membutuhkan orang seperti kamu.” Kalau saja ia dapat melihat ke masa depan, bahwa kubu Rusia pun merasa iri karena tidak memiliki orang sebaik dirinya!
Ia menatap ke bawah dan mulutnya mulai mengatup. Butir-butir keringat bergulir pelan lewat ujung hidungnya, meski hawa dingin di kokpit menusuk tulang. Ia memperkuat cengkeramannya pada tangkai pengendali pesawat, karena ia yakin sekejap lagi perutnya akan terasa mual. Ia juga mendengar kata-kata Skorzeny, “Gila! Benar-benar tak bisa dipercaya!”
“Saya kira intelijen tahu apa yang mereka lakukan,” teriaknya. Pilot tak menjawab. Ia yakin Skorzeny pasti bersyaraf baja. Tak seorang pun berpikir akan mendaratkan pesawat layang di jalur rumput yang begitu sempit. Sementara itu perhatiannya tertuju pada kilatan cahaya yang diberikan oleh pesawat Junkers Ju 52 di depan. “Siap untuk melepaskan tali, komandan!” teriak pilot.
Sesaat kemudian tali menegang ketika Junkers membelok, mendekati hotel. Pesawat layang mengikutinya. Sekali lagi Junkers kembali terbang stabil, lalu memperlambat kecepatan dan tali penariknya pun merenggang. “Yak, lepaskan!” teriak pilot. Ia mulai kehilangan kecepatan. Angin menderu sebentar, kemudian sepi. Pesawat penarik itu membelok tajam kembali ke pangkalan induk. Terlihat nyala lampu sinyal.
“Mereka mengucapkan semoga berhasil, komandan!”
Pilot mulai bersiap mendaratkan pesawat lurus ke depan. “Pesawat mendarat dua menit lagi!”
Skorzeny berpaling dan berteriak, “Periksa persenjataan.” Di belakangnya, pasukan penyergap gerak cepat memeriksa mekanisme tembakan Schmeitzer mereka, menyiapkan pisau komando dan meyakinkan diri apakah granat mereka telah siap untuk digunakan. Tak seorang pun berbicara. Suasana tegang. Lampu merah kembali menyala. Satu menit lagi mendarat. Wajah-wajah suram itu tampak memburat oleh cahaya merah, sementara jari-jemari erat menggenggam tali. Beberapa detik sebelum terdengar decit-decit suara roda pesawat (yang berarti mereka telah mendarat dengan selamat), selalu menimbulkan suasana mencekam. Dan saat-saat seperti itu membuat mereka berpikir tentang berbagai kemungkinan mengerikan. Bagaimana kalau pesawat terbalik, hidungnya menukik? Bagaimana kalau bagian belakangnya hancur dan seluruh muatannya terkocok dan remuk? Biasanya para “perencana” militer akan cermat memilih medan pendaratan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya bahaya saat pesawat mendarat. Namun ketika itu tak ada pilihan lain. Belum lagi kemungkinan pesawat menabrak lereng gunung, menyimpang bermeter-meter ke kanan atau meluncur keluar dataran berumput, dan dalam keadaan tak terkendali terperosok ke jurang sedalam dua ribu meter!
Pilot dengan terampil mengarahkan pesawatnya mendekati landasan, bagaikan burung besar tanpa bersuara hinggap di hotel. Perlahan-lahan ia mengendorkan tangkai kendali ketika hamparan menghijau tampak semakin dekat.
Sekarang! Ia menyentakkan tangkai kendali kembali dan hidung pesawat pun mendongak. Pesawat mendaratkan perutnya dengan suara berdentam, lalu meluncur seperti kepiting melintasi rumput. Hanya beberapa meter dari hotel!
“Keluar! Keluar!” Teriak Skorzeny di dekat pintu sementara pesawat masih meluncur. Ia segera berlari menuju sekelompok tentara Italia yang terperangah. Mau tahu apa yang sedang dilakukan para odong-odong ini? Bermalas-malasan mandi matahari! Bingung, mereka hanya sempat membelalakkan mata ketika seorang jenderal Italia, didampingi seorang serdadu Jerman, menghampiri mereka sambil berteriak, “Jangan tembak! Keadaan aman, jangan tembak.”
Panik, para penjaga menurunkan senapan lalu melarikan diri. Skorzeny, bersama tiga orang pasukan gerak cepat, berlari naik tangga menuju lantai pertama tempat Mussolini disekap. Karena terkejut para serdadu Alpini menurunkan senjata dan mengangkat tangan di atas kepala.
Mussolini maju, menyalami para penyelamatnya dengan tangan gemetar. Sekalipun wajahnya pucat, ia tak dapat menyembunyikan kegembiraan. “Aku yakin kawanku Adolf Hitler tak meninggalkan diriku,” katanya. Tak sabar, Skorzeny menariknya menuruni tangga, dan berlari ke lapangan rumput. Ia terkejut melihat pesawat ringan yang menurut rencana akan mereka gunakan ternyata rusak ketika melakukan pendaratan! Syukurlah pesawat cadangan, sebuah Fieseler Storch yang dikemudikan oleh Hauptmann Heinrich Gerlach, mendarat dengan mulus. Skorzeny mendorong Mussolini yang mencoba memprotesnya, merunduk masuk ke dalam pesawat. Ia pun ikut melompat ke dalamnya. Seketika pesawat penuh sesak. Kepala sang “raksasa” SS membentur atap kabin pesawat. Sekilas ia menatap Mussolini. Il Duce duduk dengan pucat ketika menyadari bahwa pesawat yang ditumpanginya akan lepas landas di lapangan rumput bertabur batu, dan berbatasan dengan lembah terjal!
Gerlach terkejut ketika melihat Skorzeny juga bersama mereka. “Anda juga disini? Tetapi...”
“Jika Mussolini terbunuh, tak ada yang dapat kulakukan selain meledakkan tubuhku sendiri dengan granat. Lebih baik aku mati bersamanya.”
Jawaban Skorzeny membuat Gerlach kurang senang dan mencoba mendebat. Namun Skorzeny menukas, “Cukup, ini perintah Führer.”
Gerlach menghidupkan mesin hingga mencapai kekuatan penuh. Fieseler Storch menerjang ke depan, menuju bibir jurang. Karena menabrak sebuah batu, pesawat melambat sesaat. Pesawat itu nyaris tak dapat mengudara meski akhirnya kecepatannya kembali menaik dan ia pun meluncur menjauhi tepi jurang, dan terbang oleng. Untunglah perlahan-lahan Gerlach mampu menguasai pesawatnya kembali. Setelah ia menarik nafas lega, pesawat melesat menuju lapangan terbang Jerman di Aquila. Selama beberapa saat ketiga orang itu diam, tak bersuara. Mereka sadar, jiwa mereka nyaris melayang. Dari Aquila mereka terbang ke Wina, lalu menuju Berlin. Mussolini tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya. Keangkuhannya kembali muncul ketika kemudian ia berjalan untuk menjabat tangan Adolf Hitler. Acungan dua jempol sepantasnya diberikan kepada Otto Skorzeny, sang pahlawan nomor satu Jerman, yang telah berhasil membuktikan kemampuannya melaksanakan misi yang nyaris mustahil itu!
Dalam operasi di Gran Sasso sendiri, hampir seluruh anggota tim Skorzeny berasal dari,Fallschirmjäger (70 orang) kecuali 18 orang yang berasal dari SS:
1. SS-Hauptsturmführer Otto Skorzeny
2. SS-Obersturmführer Ulrich Menzel
3. SS- Obersturmführer Karl Radl
4. SS-Untersturmführer Otto Schwerdt
5. SS-Untersturmführer Robert Warger
6. SS-Untersturmführer Andreas Friedrich
7. SS-Hauptscharführer Manns
8. SS-Oberscharführer Walther Gläsner
9. SS-Oberscharführer Paul Spitt*
10. SS Unterscharführer Hans Holzer
11. SS-Unterscharführer Bernhard Cieslewitz
12. SS Unterscharführer Robert Neitzel
13. SS-Rottenführer Herbert (?) Himmel
14. SS-Rottenführer Albert (?) Benz
15. Sfaeller or Gföller
16. Max Pföller
Penghargaan-penghargaan "kelas berat" yang diberikan pada anggota tim Skorzeny :
Ritterkreuz (4 orang)
1. Kurt Student 27.09.1943 (Eichenlaub no.305) sebagai General der Fallschirmtruppe dan komandan K.G. XI. Flieger-Korps (LL-Korps)
2. Otto Skorzeny 13.09.1943 sebagai SS-Hauptsturmführer der Reserve dan komandan SS-Sonderverband z.b.V. Friedenthal
3. Heinrich Gerlach 19.09.1943 sebagai Hauptmann dan Flugzeugführer dari K.G. XI. Flieger-Korps (pilot Fieseler Fi 156 "Storch")
4. Elimar Meyer 17.09.1943 sebagai Leutnant (Kr.O.) sebagai pilot glider dari i. d. III./LL-Geschwader 1

Deutsches Kreuz in Gold (7 orang)
1. Georg Freiherr von Berlepsch 01.11.1943 sebagai Oberleutnant dan Chef 1./Fsch.Jäg.Rgt 7 (1./Fsch.Jäg-Lehr.Btl)
2. Otto-Harald Mors 01.11.1943 sebagai Major i.G. dan komandan I./Fsch.Jäg.Rgt 7 (Fsch.Jäg-Lehr.Btl)
3. Gerhard Langguth 01.11.1943 sebagai Hauptmann dan Ic XI. Flieger-Korps (Verbandsführer)
4. Johannes Heidenreich 26.09.1943 sebagai Oberleutnant dan Staffelkapitän dari 12.(III.)/LL-Geschwader 1
5. Hans Neelmeyer 26.09.1943 sebagai Oberfeldwebel dan Pilot glider dari i. d. 12.(III.)/LL-Geschwader 1
6. Heiner Lohrmann 26.09.1943 sebagai Feldwebel
dan Pilot glider dari i. d. 12.(III.)/LL-Geschwader 1
7. Gustav Thielmann 26.09.1943 sebagai Unteroffizier
dan Pilot glider dari i. d. 12.(III.)/LL-Geschwader 1
Sumber :
Buku “True Adventures” oleh Bernard Brett

Rabu, Maret 06, 2013

Battle of Midway

Setelah Jepang menelan kekalahan dalam perebutan Port Moresby di pertempuran Laut Karang dan membuat marah Yamamoto karena keputusan Inouye yang fatal maka Jepang melancarkan operasi secara besar-besaran terhadap Midway. Tidak kurang dari 131 berbagai jenis kapal dikerahkan oleh Jepang dalam operasi ini. Disini juga merupakan kemunculan perdana Super-Battleship Yamato (64.000 ton versi Amerika, 68.000 ton versi Jepang) dengan 9 meriam berdiameter 18.1 inchi / 45 cm.

Jepang setelah merebut kawasan Asia Tenggara setelah menaklukan Belanda di Jawa tidak memiliki lagi langkah konkret dalam langkah berikutnya di perang Pasifik ini. Apakah harus bersifat defensif melindungi sumber-sumber alamnya dari Hindia-Belanda, Filipina, Malaya, Rabaul? Atau apakah trus melakukan ofensif hingga Sekutu menyerah? Kalau ofensif menyerang kemana? Menyerang Inggris di arah Timur (India), atau ke arah Midway dan Benua Amerika, atau menaklukan Australia?

Tapi yang memutuskan bukanlah ada di pihak Jepang tetapi dari pihak Amerika sendiri berkat misi spektakuler Doolittle yakni Doolittle Raid. Aksi Doolittle ini membuat Yamamoto membulatkan tekad untuk menghancurkan armada Amerika dan demi keselamatan Tenno-Heika.

Pulau Midway adalah pulau kecil, letaknya terletak tepat ditengah-tengah Samudra Pasifik dan jarak antara Tokyo dan San Fransisco maka namanya adalah Midway (Setengah-Jalan). Midway sendiri adalah pertahanan terluar dari Pearl Harbour-Hawaii. Karena itu seandainya Midway berhasil direbut maka pendaratan di Hawaii bukanlah hal yang mustahil.

Armada Jepang
-------------
Tidak jauh dari kota Hiroshima pada tanggal 27 Mei 1942 berkumpulah konsentrasi armada Jepang terbesar yang pernah ada. Tanggal 27 Mei sendiri adalah sebuah tanggal yang dimana Laksamana Togo menghancurkan armada Rusia pada tahun 1905. Yamamoto sendiri menyadari bahwa inilah kesempatan Imperial Navy Japan menghancurkan armada Pasifik Amerika, karena Yamamoto menyadari setelah tahun 1942 Jepang akan kalah dalam proses produksi kapal dan perang Pasifik ditentukan oleh siapa yang menguasi samudra.

Yamamoto yang menyadari pentingnya operasi ini turut serta dalam pertempuran. Yamamoto memilih berkedudukan di Super-Battleship Yamato yang baru selesai dibuat oleh Jepang dan merupakan Battleship terbesar yang pernah dibuat oleh manusia. Yamamoto dalam operasi ini juga mengerahkan 4 kapal induk Akagi, Kaga, Hiryu, Soryu yang dipimpin oleh Laksdya Chuichi Nagumo yang memimpin penyerangan Pearl Harbour (8 Desember 1941). Seandainya saja Jepang memenangi Battle of Coral Sea maka kapal induk Zuikaku dan Shokaku dapat turut serta dalam perang Midway ini. Armada Jepang sebanyak 131 berbagai jenis kapal berangkat menuju Midway.

Bagaimana dengan Amerika? Amerika yang kekurangan kapal Induk hanya mengerahkan 3 kapal induk Enterprise dan Hornet (yang membawa Doolittle), juga Yorktown veteran dari Battle of Coral Sea. Tidak kurang 50 jenis kapal dikerahkan oleh Amerika. Tapi beruntung bagi Amerika di pulau Midway banyak pesawat.

Tipe Kapal dan Jumlah
Kapal Induk Berat 4 (IJN) 3 (US)
Kapal Induk Ringan 3 (IJN) -
Battleship 11 (IJN) -
Cruiser 10 (IJN) 8 (US)
Destroyer 60 (IJN) 17 (US)
kapal selam 16 (IJN) 19 (US)
kapal transpor 13(IJN) -
sea plane carrier 5 (IJN) 2 (US)
kapal penyapu ranjau 4 (IJN) 1 (US)


Rencana Yamamoto
-----------------
Dalam serangan ini Yamamoto melancarkan sebuah rencana yang menghasilkan unsur kejutan bagi lawannya. Karena pada rencana Yamamoto, Ia memecah pasukannya 2 kapal induk ringan dan kapal lainnya untuk menyerang kepulauan Aleut (pulau Attu dan Kiska) dan melakukan pendaratan disana. Nah bila Nimitz terpancing dan mengirim armadanya untuk mempertahankan Aleut maka Yamamoto akan mengirim pasukannya untuk menyerang Midway. Jepang sangat yakin akan keberhasilan rencana ini bahkan jauh hari sudah menyiapkan nama pengganti Midway dalam bahasa Jepang.

Apakah Nimitz terpancing? Sayangnya tidak, karena setelah pertempuran di laut Karang Nimitz mengetahui bahwa Jepang pada Juni 1942 akan menyerang Aleut dan Midway. Hal ini diketahui berkat pengintaian kapal selam sekutu dan berkat intelijen sekutu yang berhasil memecahkan kode rahasia militer Jepang.

Nimitz yang mengetahui ini langsung mengumpulkan pasukannya di Pearl Harbour dengan pimpinan Laksda Fletcher sedangkan armada kapal induk dipimpin oleh Laksda Raymond Spruance. Nimitz membiarkan Aleut dan mengkonsentrasikan pasukannya untuk menjaga Midway dan menempatkan pasukannya di Timur Laut pulau Midway jauh dari pesawat pengintai Jepang via kapal induk. Sedangkan pesawat pengintai Amerika diterbangkan dari pulau Midway.

Pengintaian dan Perperangan
----------------------------
Sejak tanggal 30 Mei, Amerika telah melakukan pengintaian dengan pesawat udara. Tapi karena cuaca buruk maka armada Jepang dapat bergerak tanpa ketahuan oleh Amerika. Setelah 3 hari mencari, pesawat pengintai Amerika yang seharusnya kembali ke Midway melakukan pencarian lagi (tanggal 3 Juni) dan bertemu iring-iringan kapal Jepang pada jam 09.00.

Dari pangkalan udara Midway, 9 pesawat pembom diterbangkan untuk menghajar kapal Jepang tersebut. Pada jam 18.00 bom dijatuhkan tetapi tidak ada yang kena. Pilot-pilot itu mengatakan dan bersikeras bahwa yang diserangnya adalah kapal tempur (Battleship) Jepang. Namun Fletcher (untungnya) tidak begitu saja percaya pada laporan itu mengingat para pilot itu kurang berpengalaman.

Pada 4 Juni 1942 jam 04.30 pagi, Fletcher melepaskan pesawat pengintai dari kapal induk Yorktown untuk mencari armada kapal induk Jepang. Jam 05.45 datanglah laporan dari pesawat pengintai bahwa adanya formasi pesawat Jepang menuju Midway. Maka Fletcher memerintahkan kepada Spruance di kapal induk Enterprise untuk menyerang.

Pihak Jepang pada jam 04.30 telah melepaskan 108 pesawat fighter, dive bomber, torpedo bomber untuk menyerang Midway. Midway sendiri yang memiliki radar telah mengetahui datangnya tamu dari Jepang dan mengerahkan 26 pesawat Fighter untuk menyambut tamu tak diundang tersebut. Kalah jumlah, pesawat Amerika hampir semua dihancurkan dan Midway sendiri mengalami kerusakan walau tidak parah. Pada jam 06.50 serangan Jepang ini berakhir. Letna Juichi Tomonaga yang memimpin serangan ini memberitahu kepada Nagumo bahwa pemboman Midway perlu dilakukan kembali.


Laksdya Nagumo melakukan kesalahan fatal!
------------------------------------------
Menerima laporan ini Nagumo memerintahkan untuk pesawat-pesawat yang ada digeladak kapal induk untuk mengganti torpedo yang rencananya untuk menghancurkan kapal Amerika dengan bom untuk membombardir Midway. Maka pesawat kembali diturunnkan dan proses pergantian bom dilakukan dan memakan waktu kira-kira 1jam. Sementara itu geladak kapal dikosongkan untuk menerima pasukan Tomunaga.

Sementara Nagumo dan kapal induk Jepang melakukan pertukaran torpedo ke bom, armada Amerika telah mengerahkan 116 pesawat fighter, dive bomber, dan torpedo bomber dari kapal induk Enterprise dan Hornet pimpinan Spruance. Fletcher sendiri mengirimkan 35 pesawat fighter, dive bomber, dan torpedo bomber dari kapal induk Yorktown.

Harap diingat bahwa strategi Jepang tergantung oleh sikap Nimitz apakah terpancing atau tidak ke Aleut sehingga unsur surprise didapatkan oleh Jepang. Sayangnya Nimitz tidak terpancing.

Ketika Nagumo menerima kabar kedatangan kapal-kapal perang Amerika 10 buah dan berjarak 200 mil dari posisi kapal induk Jepang, teganglah Nagumo. Apakah itu kapal perang biasa atau kapal induk? Karena kalau kapal biasa bisa diserang oleh kapal induk Jepang tapi kalau kapal tersebut adalah kapal induk Amerika, pesawat-pesawat Amerika dapat menyerang kapal induk Jepang. Untuk sementara Nagumo menghentikan proses pergantian bom ke torpedo.

Tiba-tiba datang berita bahwa 10 kapal Amerika tersebut hanya terdiri dari kapal Cruiser dan Destoryer. Nagumo menjadi lega dan tenang. Tetapi 11 menit kemudian menjadi mencekam setelah datang lagi berita bahwa terlihat kapal induk. Segeralah Nagumo memerintahkan pesawat-pesawat di kapal induk Akagi dan Kaga untuk menukar kembali dari bom ke torpedo.

Situasi demikian genting di pihak Jepang. Selama proses penukaran ke torpedo kembali, pesawat-pesawat Tomunaga baru melakukan proses pendaratan. Ketika di bawah geladak kapal induk Jepang proses penukaran senjata terjadi dan diatas geladak pesawat Tomunaga mendarat, pesawat-pesawat Amerika yang dilepas oleh Spruance telah mendekati kapal induk Jepang. Nagumo yang menerima berita ini tidak bisa berbuat apa-apa karena dia harus menunggu seluruh pesawat Tomunaga untuk mendarat dan ini baru selesai pada jam 09.05


Serangan Amerika
-----------------
Dua puluh menit kemudian, 15 pesawat torpedo Amerika pimpinan Letnan John C. Waldron dari kapal induk Hornet akan menyerang kapal induk Jepang setelah memberitahu Laksamana Spruance walau pesawat torpedo itu tidak dilindungi oleh Fighter. Semua pesawat torpedo Amerika berhasil disikat oleh pesawat fighter Jepang Zero. Selain itu pesawat torpedo dari kapal induk Enterprise sebanyak 14 buah juga menyerang dan dihancurkan pula oleh Zero. Setelah serangan ini berakhir datanglah serangan berikutnya pada jam 10.00 dari kapal induk Yorktown dan dari 12 pesawat torpedo dan 6 pesawat fighter (jenis Wildcat) hanya 2 yang kembali. Tidak ada satupun torpedo yang kena sasaran.

Namun kegagalan serangan ini berguna bagi serangan berikutnya karena pesawat Zero Jepang terpaksa terbang rendah untuk menghadang kemungkinan serangan torpedo Amerika. Sementara Zero terbang rendah, 37 pesawat SBD-Dauntless dive bomber Amerika terbang tinggi dan mulai melakukan serangan terhadap kapal induk Jepang. Zero yang tidak bisa segera terbang tinggi tidak bisa mencegah serangan ini pada jam 10.20

Pukul 10.26 Akagi dengan 40 pesawat yang sedang mengisi bahan bakar di geladak terkena 3 bom dari ketinggian 500 meter. Kapal Induk Akagi yang menjadi kebanggaan Jepang terbakar hebat yang menurut awaknya laksana neraka. Pukul 10.47 Nagumo terpaksa melakukan evakuasi dan meninggalkan Akagi. Awak Akagi dipindahkan ke kapal destroyer dan Nagumo sendiri pindah ke kapal Cruiser. Keesokan harinya Akagi yang tidak bisa diselamatkan ditenggelamkan oleh Jepang.

Kapal induk Kaga yang sedang mengisi bahan bakar pada pesawatnya menerima 4 buah bom dan mengalami kebakaran hebat. Setelah awaknya dipindahkan ke kapal Destroyer, kapal induk Kaga meledak dan karam pada jam 19.25.

Kapal induk Soryu yang baru selesai mengisikan bahan bakar bagi pesawatnya dan siap lepas landas pada jam 10.25 menerima 3 bom seberat 1000 pond dan membuat kebakaran hebat yang tidak bisa dipadamkan. Awak Soryu dievakuasi. Kapal induk Soryu pun meledak dan tenggelam.

Serangan balasan Hiryu-Jepang
-------------------------------
Kapal induk Hiryu yang tersisa dari armada kapal induk Jepang pada jam 11.00 melakukan serangan balasan ke pihak Amerika dengan melepaskan pesawat Dive Bomber "Val". Serangan Jepang ini diketahui berkat radar dari Midway. Segeralah Fletcher yang berada di Yorktown memerintahkan kapal induknya untuk bermanuver mencegah serangan pesawat Jepang.

Serangan pertama Jepang ditahan oleh pesawat fighter Wildcat Amerika, tetapi 6 buah Val berhasil lolos dan menyerang Yorktown. 3 buah bom menghantam Yorktown. Kebakaran yang terjadi bisa dipadamkan, tetapi Yorktown mengalami kerusakan. Selagi Yorktown dibetulkan datang lagi serangan kedua Jepang dan kali ini 2 buah bom mengenai Yorktown. Yorktown miring dan pada jam 15.00, Yorktown ditinggalkan oleh anak buahnya.

Kemenagan Hiryu kali ini harus dibayar mahal karena Spruance kali ini mengetahui posisi Hiryu. Segeralah Spruance mengirimkan pesawat 24 dive bomber untuk menggempur Hiryu. Walau Hiryu dilindungi oleh kapal-kapal Jepang lainnya, 24 pesawat hanya fokuskan serangan ke Hiryu. Empat buah bom mengenai Hiryu. Kebakaran hebat yang dialami Hiryu tidak bisa dipadamkan dan pada tanggal 5 Juni jam 03.15, evakuasi dilakukan lalu Hiryu ditenggelamkan oleh Jepang.

Jepang mundur
---------------
Yamamoto yang berkedudukan di Yamato mendengar nasib kapal induknya akhirnya memerintahkan untuk melakukan mundur secara teratur pada jam 02.55 tanggal 5 Juni karena melihat Jepang telah kehilangan seluruh kapal induknya sementara Amerika kapal induknya masih memiliki 2 kapal induk.

Dalam proses mundur ini, Jepang mengalami kemalangan. 2 kapal penjelajahnya Mikuma dan Mogami beradu sehingga kecepatan kedua kapal ini menurun sehingga terpaksa ditinggalkan setelah Yamamoto meninggalkan 2 Destoyer untuk mengawal Mikuma dan Mogami. Keadaan ini diketahui oleh pihak Amerika dan segeralah dilancarkan serangan ke empat kapal ini pada tanggal 6 Juni. Serangan pesawat pembom Amerika tidak serta merta merusakan kapal-kapal ini karena tembakan anti pesawat, setelah serangan kedua dari Amerika kapal Cruiser bisa menenggelamkam Mikuma dan menewaskan 1.000 awaknya. Mogami sendiri berhasil meloloskan diri dengan kawalan 2 Destroyer.

Dan berakhirlah Perang Laut Midway ini.


Penilaian
-----------
Pertempuran kali ini menegaskan kembali arti dari sebuah kapal induk yang awalnya dipandang rendah dan peranan penting pesawat dalam pertempuran laut.

Dan kegagalan Jepang kali ini merubah peta perang Pasifik sebab setelah ini Jepang tidak bisa lagi membentuk lagi armada kapal induk yang sedemikian kuat karena selain kehilangan 4 kapal induknya, Jepang juga kehilangan para pilot dan awak kapal yang handal. Sesudah ini ekspansi militer Jepang terhenti dan berubah dari bersikap ofensif menjadi defensif. Jepang sendiri Shinano yang awalnya hendak dibuat super-battleship sekelas Yamato langsung diubah menjadi kapal induk raksasa.

Mengapa Jepang kalah? 1. Kegagalan intelijen Jepang karena bocornya rencana operasi Midway oleh intelijen Amerika, 2. Kesalahan Yamamoto dalam memecah kekuatannya untuk memancing Nimitz dengan menyerang Aleut (Nimitz sendiri tidak terpancing karena bocornya rencana Jepang). Aleut sendiri sebenarnya tidak memiliki nilai strategis, 3. Yamamoto berada terlalu jauh di belakang armada kapal induknya. Semua penilaian ini berdasarkan pengamat baik dari pihak Amerika dan Jepang.

Jepang sendiri merahasiakan kegagalan operasi Midway ini dan fakta kekalahan ini dicap sebagai Top-Secret hanya segelintir orang saja yang mengetahui. Para awak dan pilot yang terluka dalam operasi ini diasingkan dari dunia luar.

Pertempuran Laut Midway ini membuat jatuh moril pihak Jepang tapi sebaliknya membuat semangat dan percaya diri bagi pihak Sekutu.

Repost From: http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=32362&page=2
http:// http://repostme4wow.blogspot.com/2010/07/battle-of-midway.html