Rabu, Agustus 26, 2015

Sembuh dari Kanker Leher Rahim Stadium III setelah Bersedekah


Sembuh dari Kanker Leher Rahim Stadium III setelah Bersedekah

ilustrasi © nafedz.com

Informasi yang diterima dari sang dokter kepada sang suami terkait kondisi istrinya itu bagai petir nan bergemuruh disertai kilat yang mengagetkan. Jika mampu, menolak atau kembali ke masa lalu agar bisa mencegah adalah pilihan yang pasti diambil. Namun, informasi itu bagai vonis hakim atas kesalahan ’terdakwa’ yang tinggal dieksekusi.
 
Lantaran tak menerima informasi yang disampaikan oleh dokter itu, sang suami pun berupaya memeriksakan istrinya kepada dua dokter yang lain. Berharap diagnosis dokter pertama salah, ternyata dua dokter yang didatangi belakangan menyampaikan informasi serupa. Sang istri positif mengidap kanker leher rahim (Ca Cervix) stadium III.

Lepas berkonsultasi, jika hendak dilakuan tindakan penyembuhan berupa terapi kimia dan sebagainya, sang dokter menyebut angka delapan puluh juta rupiah. Meski terbilang kaya, rupaya sang suami berpkir lain. Baginya bukan soal angkanya, tetapi melihat kemungkinan yang tidak diinginkan. Apalagi, jika pun delapan puluh juta tunai dibayarkan untuk tindakan, tak ada satu pun dokter ataupun rumah sakit yang menjamin kesembuhan bagi istrinya itu.

Maka, sang suami menempuh jalan yang tak biasa. Ia berniat mengumpulkan uang sejumlah itu, namun untuk disedekahkan kepada yang berhak menerimanya. Senilai delapan puluh juta itu dibagikan kepada panti asuhan, fakir miskin, janda, dan lainnya.

Selain itu sang suami memberikan obat-obatan herbal kepada istrinya, secara rutin sesuai rekomendasi tabib. Berbilang waktu kemudian, sang suami berniat memeriksakan istrinya. Keduanya mendatangi dokter untuk memastikan kondisi penyakit yang divoniskan beberapa bulan lalu.

Hampir tak percaya, pasangan suami istri itu hanya bisa memuji nama Allah Ta’ala. Berdasarkan pemeriksaan dokter, sama sekali tak dijumpai jejak kanker leher rahim yang divoniskan kepada sang istri. Bersih. Istrinya sehat.

Allah Ta’ala yang menciptakan sakit, Dia pula yang berikan obatnya. Dia Mahakuasa untuk menyembuhkan siapa yang dikehendaki-Nya. Hanya dengan sekali “Kun”, maka terjadilah apa yang Dia Kehendaki.

Dalam kaca mata keimanan, fenomena ini bisa dijelaskan dengan Kemahakuasaan Allah Ta’ala. Dia memberikan sesuatu sesuai sunnah-Nya. Kesembuhan yang Dia berikan dalam kisah nyata di atas sudah melalui usaha panjang dari hamba-Nya dalam hitungan bulan dengan pengorbanan harta, tenaga dan sumber daya yang tak sedikit.

Sedekah yang dipilih oleh sang suami adalah kesadaran penuh bahwa Allah Ta’ala Mahakuasa. Ia tidak apatis sebab masih menempuh jalan herbal bagi kesembuhan sang istri sebagai sebentuk ikhtiar manusiawi. Hasilnya, Allah Ta’ala berikan kesembuhan dengan bonus: sang istri hamil. Masya Allah…

Di dalam al-Qur’an, apa yang dilakukan oleh pasangan suami istri ini telah digaransi dalam bab taqwa. Siapa yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala, maka Dia akan memberikan jalan keluar dari arah yang tidak diduga-duga.

Patut dicatat, barangkali fenomena ini tak lantas berlaku bagi semua orang. Sebab perbedaan tingkat iman, taqwa dan kemampuan ekonomi, hendaknya tidak menyamaratakan kasus. Karena dikhawatirkan seorang hamba akan ‘menyalahkan’ Allah Ta’ala tatkala melakukan hal serupa, tapi hasilnya berbeda. [Pirman]
*Diceritakan ulang secara bebas dari buku “Muslim Klakson”.

sumber : http://kisahikmah.com/sembuh-dari-kanker-leher-rahim-stadium-iii-setelah-bersedekah/

Rabu, Agustus 12, 2015

Polisi Zaman Kompeni

Cuma ada tiga polisi jujur di negeri ini: polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng.


DALAM canda yang dilontarkan Gus Dur itu tersimpan kritik pedas bahwa kejujuran di tubuh organisasi kepolisian telah hilang dan menjadi barang langka. Benarkah demikian?

Belakangan ini polisi sedang menghadapi cobaan terberat sepanjang keberadaannya di Republik ini. Perkara Susno Duadji, rekening gendut, hingga yang paling beken Gayus Halomoan Tambunan membuat lembaga kepolisian mendapat sorotan dari masyarakat. Kasak-kusuk tentang kinerja polisi pun sudah beredar luas dari mulut ke mulut dan kuping ke kuping, menyisakan sejumput ragu atas kinerja lembaga kepolisian.

Beberapa ungkapan kekecewaan dan plesetan sindiran terhadap kinerja polisi kerap mewarnai perbincangan di warung kopi: “kehilangan rumah” saat mengurus motor yang dicuri atau KUHP, Kasih Uang Habis Perkara. Begitulah citra polisi di mata masyarakat. Penuh rekayasa dan manipulasi. Bagaimana sebenarnya peran polisi di dalam sejarah? Apakah benar polisi selalu identik dengan rekayasa dan segala tuduhan miring?

Marieke Bloembergen, sejarawan yang bekerja sebagai peneliti di Lembaga Kajian Asia Tenggara dan Karibia (KITLV) di Leiden, Belanda, menulis sebuah buku tebal tentang rekam jejak polisi di Hindia Belanda. Dalam buku terjemahan dari bahasa Belanda setebal 500 halaman lebih itu Marieke membeberkan sejarah polisi di Hindia Belanda sejak awal pembentukannya pada 1897 sampai keruntuhan negara kolonial pada 1942.

Menurut Marieke, polisi di Hindia Belanda merupakan produk langsung dari ketakutan dan kepedulian. Sejak 1870 masyarakat Eropa mulai membanjiri dan menetap di Hindia Belanda. Mereka merasa was-was karena bagaimana pun mereka tinggal di sebuah negeri asing di mana masyarakat di sekeliling mereka punya budaya dan pemahaman lain atas komunitas kulit putih.

Perlawanan kaum pribumi terhadap otoritas kolonial sebagaimana terjadi pada 1888 di Banten dan sebelumnya pada 1854 menjadi catatan tersendiri buat pemerintah kolonial untuk mendirikan sebuah organisasi kepolisian modern untuk menjaga kepentingan dan keberadaan mereka di Hindia Belanda. Kemunculan politik etis dan terciptanya golongan elit pribumi yang menginisiasi gerakan nasionalisme di Hindia Belanda mendorong pemerintah kolonial lebih aktif memodernisasi kepolisiannya. Selain sebagai penjaga keamanan juga untuk “mewujudkan gagasan bahwa urusan keamanan adalah bagian penting dari kewajiban (penyelenggaraan) negara sekalipun dengan segala cara tetap ingin mempertahankan status quo kolonial,” tulis Marieke dalam bukunya.

Pemerintah kolonial pun memikirkan fungsi sosial lain dari kepolisian. Ia harusnya mampu menjaga ketertiban masyarakat; memastikan masyarakat tetap patuh pada peraturan pemerintah; dan memuaskan kebutuhan masyarakat akan rasa aman.

Kepolisian di Hindia Belanda dibentuk sebagai tanggapan dari negeri induk terhadap persoalan bagaimana memelihara dan menjaga keamanan di negara koloni. Ironisnya, ketika lembaga kepolisian ini dibentuk, tak ada seorang pribumi pun yang dimintai masukan tentang bagaimana seharusnya kepolisian bekerja. Menurut Marieke, ketika 1930 anggota kepolisian mencapai jumlah terbesarnya, yakni 54 ribu personel, 96 persen di antaranya justru berasal dari golongan pribumi. Sebagian besar dari mereka, kecuali anak bupati yang diberi previlese sebagai petinggi polisi, menempati posisi sebagai anggota terendah dalam struktur kepolisian yang hierarkis.

Film Si Pitung (1970), disutradarai Nawi Ismail, menggambarkan situasi yang mendekati kebenaran, di mana kepala polisi yang diperankan Hamid Arif adalah seorang Belanda sementara anak buahnya terdiri dari pribumi berkulit sawomatang. Meneer Belanda kepala polisi itu menggunakan perpanjangan tangan kolonial lain, yakni Demang Meester, untuk menangkap Pitung yang dianggap selalu meresahkan masyarakat kulit putih di Betawi yang dipersonifikasi sebagai komunitas penjajah yang menebarkan ketidakadilan pada rakyat jelata.

Semenjak tahun 1830-an upaya negara kolonial untuk mengintegrasikan dirinya ke dalam sistem ekonomi imperialis mulai berkembang. Satu dekade setelah Perang Jawa, investasi asing mulai masuk dan berwujud dalam berbagai macam industri perkebunan dan pertambangan. Pemerintah kolonial harus memastikan kalau pihak swasta penanam modal itu menadapatkan perlindungan dan jaminan keamanan dari segala gangguan yang bisa sewaktu-waktu datang dari kelompok pribumi.

Memang pada 1860, pejabat tinggi kolonial di Hindia Belanda melontarkan kritik pedas pada kinerja kepolisian yang tak sanggup memelihara keamanan dan ketertiban di kalangan masyarakat. Menanggapi kritik demikian pemerintah kolonial pun mendirikan sebuah komisi kepolisian yang memiliki tugas menelaah dan mencari jalan keluar agar ada perbaikan pada mutu kerja kepolisian.

Apa yang terjadi pada zaman itu mengingatkan kita pada pembentukan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) yang didirikan pada 1 Juni 2006. Tugas Kompolnas pun mirip-mirip dengan komisi kepolisian yang dibentuk pada zaman kolonial, yakni berupaya meningkatkan kinerja kepolisian Indonesia melalui masukan dan saran kepada Presiden RI.

Pada zaman kolonial, sebagaimana temuan Marieke, ternyata polisi pun ambil urusan menangani soal-soal akhlak. Pada 1937, atas permintaan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer, polisi mengadakan penyelidikan perkara homoseksualitas yang marak terjadi di kalangan pejabat tinggi pemerintah. Perintah gubernur kepada polisi itu didahului oleh sebuah surat dari Christelijke Staaprtij (CSP) yang melihat telah banyak dosa yang dibuat para pejabat tinggi karena menjalankan aktivitas homoseksual. Kepolisian kolonial pun menebar agen reserse untuk menangkap homoseksual dan memenjarakan mereka. Menurut Marieke, cara kepolisian kolonial memberantas homoseksualitas tak jauh berbeda dari cara mereka memberantas komunisme yang melakukan pemberontakan pada 1926.

Negara Hindia Belanda digambarkan sejarawan Henk Schulte Nordholdt sebagai negara yang penuh dengan kekerasan. Karena itu, guna memajukan kepentingan ekonomi dan kekuasaan politiknya, negara kolonial ini praktis membutuhkan polisi sebagai perpanjangan tangan pemerintah yang bisa secara aktif menjalankan kebijakan dan menegakkan “rust en orde” atau keamanan dan ketertiban. Polisi di era kolonial pada kenyataannya telah merambah ke fungsi lain, dari sekadar memberikan rasa aman kepada komunitas Eropa dan masyarakat hingga mencakup persoalan politik dan polisi moral. Peran yang luas dan menggurita itu membuat sejarawan Harry Poeze menyebut Hindia Belanda sebagai negara polisi (politiestaat).

Penelitian sejarawan alumnus Universiteit van Amsterdam itu berhasil memberikan gambaran yang jelas tentang asal-usul lembaga kepolisian modern di Hindia Belanda sekaligus memberikan dasar pengetahuan holistik untuk memahami bentuk dan kinerja kepolisian Indonesia di masa sekarang. Penelitiannya, yang telah diterbitkan menjadi buku Polisi Zaman Hindia Belanda: Dari Kepedulian dan Ketakutan (Penerbit Buku Kompas, 2011), merupakan jalan masuk yang lempang bagi sarjana dan peneliti yang hendak menelusuri sekaligus menelaah lembaga kepolisian dari beragam perspektif keilmuan.

 sumber : http://historia.id/modern/polisi-zaman-kumpeni

Senin, Agustus 10, 2015

Ayahanda H. Abdul Azis Gaffar Berpulang ke Rahmatullah

Senin subuh sekitar pukul 05.00 wita 3 Agustus 2015, ayahanda tercinta H. Abdul Azis Gaffar berpulang ke rahmatullah di kediaman beliau dalam usia +/- 80 tahun (lahir 6 Desember 1934). Beliau dimakamkan di pemakaman keluarga Segeri Kabupaten Pangkajene Kepulauan berdampingan dengan kedua orangtua dan beberapa saudara serta kerabat beliau. Alhamdulillah walaupun telat karena pesawat Lion Air yang kami tumpangi mengalami delay yang seharusnya take off 11.20 nyatanya pkl 13.20, kami dapat hadir dipelaksanaan pemakaman beliau ba'da isya.
Selamat jalan Pa. Allaahummag firlahu warhamhu wa'fu anhu wa akrim nuzulahu wa wassi' madkhalahu wanuqqihi minal khataya wa aaizhu min azaabil qabri wa azaabin naar, aamiin ya rabbal aalamiin.
Setelah menghadiri pemakaman ayahanda tercinta keesokan harinya kami sekeluarga, Musa dan Karya sekeluarga melanjutkan ziarah ke kuburan ibunda tercinta Hj. Hurriyah Sjafiie di Jampue Pinrang.

lagi khusyu berdoa di makam almarhumah mama

Salsa lagi in action

Foto bersama di makam mama

Alm Bapak dan almh Rini berfoto berdua di kediaman nenek di Pangkep


Bapak berfoto di depan kantor Biro Kesra bersama mobil Fiat beliau

Foto keluarga di Taman Mini 1977

Bapak sewaktu mengikuti Diklat Sespa III tahun 1980 




   
 

Rabu, Juli 29, 2015

Penghambat Terkabulnya Doa


Seseorang bertanya kepada Ibrahim bin Adham ra, kita selalu berdoa tetapi mengapa doa kita tidak terkabul padahal Allah Ta'ala telah mewahyukan:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

 

"Dan Rabb-mu berfirman: 'Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku, akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina'."(QS.40:60)

"Sebab hati kalian telah mati" jawab beliau.
"Apa yang membunuhnya?" Tanyanya
"Ada delapan yang membunuh hati" jawab beliau.

 

Pertama, kalian mengetahui hak-hak Allah, tetapi tidak memenuhinya.
 
Kedua, Kalian membaca Al-Qur'an, tetapi tidak mengamalkan isinya.
 
Ketiga, kalian mengaku cinta kepada Nabi Muhammad saw, tetapi tidak mengamalkan sunah-sunahnya.
 
keempat, kalian menyatakan takut mati, tetapi tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
 
Kelima, Allah telah mewahyukan:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

 

"Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya, supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala."(QS.35:6)

Tetapi kalian justu mentaati ajakannya untuk bermaksiat kepada Allah.
 
Keenam, kalian mengaku takut kepada siksa neraka, tetapi kalian tenggelamkan tubuh kalian kedalamnya,(dengan selalu berkata dusta).
 
Ketujuh, kalian menyatakan cinta surga, tetapi tidak beramal untuknya.
 
Kedelapan, ketika bangun tidur kalian lemparkan aib-aib kalian dibelakang punggung kalian dan kalian hamparkan aib orang didepan mata kalian, sehingga kalian membuat Allah murka.
 
Jika semua ini kalian lakukan, bagaimana doa kalian akan dikabulkan, jawab Ibrahim bin Adham.

Mudah-mudahan artikel diatas bermanfaat bagi pembaca yang budiman dan dapat menambah keimanan kepada Allah swt.

sumber : http://pengumpulhikmah.blogspot.com/2013/03/penghambat-terkabulnya-doa.html

Rabu, Juli 22, 2015

HUT ke-9 ananda Rifqi

Alhamdulillah gak terasa ananda Rifqi memasuki usia ke-9 tahun pada hari Sabtu 18 Juli 2015 yang bertepatan dengan hari kedua Iedul Fithri 2 Syawal 1436 H. Untuk merayakan ultahnya bersama mama dan papa kita syukuran di Resto ... di Bintaro - sorry namanya lupa :( 
Berikut foto-fotonya..



 

Rabu, Juli 15, 2015

Kumpulan Doa Sehari-hari





 Doa Mohon Diperbaiki Urusan Dunia Dan Akhirat
“Allahumma ‘ashlihlii diinilladzii huwa ‘ishmatu ‘amrii wa ‘ashlihlii dunyaayallatii fiihaa ma’aasyii wa ‘ashlih aakhiratillatii fiihaa ma’aadii waj’alihayaata dziyaadatanlii fi kulli khairin waj’alil mauta raahatanlii min kulli syarr”
 
Artinya
“Ya Allah, perbaikilah agamaku untukku, yang ia merupakan benteng pelindung bagi urusanku. Perbaikilah duniaku untukku, yang ia menjadi tempat hidupku. Dan perbaikilah akhiratku, yang ia menjadi tempat kembaliku. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagiku dalam setiap kebaikan, serta jadikanlah kematian sebagai kebebasan bagiku dari segala kejahatan. (HR Muslim, Al-Nasa’i, dan Al-Thabarani)”

 Doa Mohon Khasiat Kebaikan Dari Al-Qur’an
Allaahummaghfirlii bi al-qur’aani. Allaahummarhamnii bi al-qur’aani. Allaahummahdinii bii al-qur’aani. Allaahummarzuqnii bi al-qur’aani.”
 
Artinya
“Ya Allah, ampunilah aku dengan Al-Quran. Ya Allah, kasihilah aku dengan Al-Quran. Ya Allah, berilah petunjuk kepadaku dengan Al-Quran. Ya Allah, berilah rezeki kepadaku dengan Al-Quran. (HR Ibn Abi Syaibah)”
 
Doa Mohon Ampunan Pada Hari Perhitungan
“Rabbanaaghfirlii wa li waalidayya wa lil-mu’miniina yauma yaquumu al-hisaab”
 
Artinya
“Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakannya perhitungan (Hari Kiamat). (QS Ibraahiim [14]:41)”
 
Doa Mohon Ampunan Dan Terhindar Dari Kedengkian Terhadap Orang-Orang Beriman
“Rabbanaaghfirlanaa wa li ikhwaaninaa alladziina sabaquunaa bi al-iimaani wa laa taj’al fii quluubinaa ghillan lilladziina aamanuu. Rabbanaa innaka ra’uufun rahiimun.”
 
Artinya
“Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Hasyr [59]:10)”
 
Doa Mohon Ampunan Dan Terhindar Dari Siksa Neraka
“Rabbanaa innanaa aamannaa faghfirlanaa dzunuubanaa wa qinaa ‘adzaab al-naar”
 
Artinya
“Ya Tuhan kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kai dari azab neraka. (QS Aali ‘Imraan [3]:16)”

 Doa Mohon Diringankan Beban Hidup
“Rabbanaa laa tu’aakhidznaa in nasiinaa au akhtha’naa. Rabbanaa wa laa tahmil ‘alainaa ishran kamaa hamaltahuu ‘alaa alladziina min qablina. Rabbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thaa qatalanaa bihi wa’fu’annaa waghfirlanaa warhamnaa anta maulaanaa fanshurnaa ‘alaa al-qaumi al-kaafiriin.”
 
Artinya 
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat, sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir. (QS Al-Baqarah [2]:286)”
 
 Doa Mohon Dicintai Dan Mencintai Allah SWT
“Allaahumma innii as’aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wa al-’amala alladzii yuballighunii hubbaka. Allaahummaj’al hubbaka ahabba ilayya min nafsii wa ahlii.”
 
Artinya
“Ya Allah, aku memohon curahan cinta-Mu dan kecintaan orang-orang yang mencintai-Mu, serta memohon curahan amal yang dapat mengantarkan diriku mencintai-Mu. Ya Allah, jadikanlah kecintaan kepada-Mu lebih tertanam dalam jiwaku melebihi kecintaanku kepada diri sendiri dan keluargaku. (HR Al-Tirmidzi dan Al-Hakim)”
 
Doa Ketika Kebenaran Didustakan
“Rabbinshurnii bimaa kadzdzabuuni”
 
Artinya
“Ya Tuhanku, tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku. (QS Al-Mu’minuun [23]:26)”
 
Doa Ketika Mencari Kebenaran
“Allaahumma arinaa al-haqqa haqqan fanattabi’uhu wa arinaa al-baathila baathilan fanajtanibuhu wa laa taj’al dzaalika mutasyaabihan ‘alainaa fanatba’u al-hawaa”
 
Artinya 
“Ya Allah, tampakkanlah kepada kami yang haq itu benar-benar haq, dan berilah kami hidayah untuk mengikutinya. Dan tampakkanlah yang batil itu benar-benar bail, dan berilah kami keinginan untuk menjauhinya. Janganlah Engkau jadikan hal itu samar sehingga kami mengikuti hawa nafsu.
 
Berdo’a Dengan Menggunakan Do’a Dzun Nun (Do’a Nabi Yunus alaihissalam)
Dari Sa’ad bin Abi Waqash ra., ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Do’a Dzun Nun (Nabi Yunus alaihissalam) ketika berada di dalam perut ikan: ‘Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu min Azh-zhaalimiin’. Jika seorang berdo’a dengannya memohon sesuatu, niscaya Allah akan mengabulkannya’” (HR. Tirmidzi )
 
Do’a Orang Yang Terbangun Di Malam Hari Dengan Do’a Yang Ma’tsur
Dari Ubadah bin Shamit ra., dari nabi Muhammad SAW, bahwasanya beliau bersabda, “Brangsiapa yang terjaga di malam hari, lalu mengucapkan: ‘Laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariika lah, lahul mulku walahul hamdu, wahuwaa ‘alaa kulli syai’in qadiir, Alhamdulillaah, wasubhanallaah, wa laa ilaaha illallaah, wallahu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah’ (Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nyalah seluruh kerajaan dan bagi-Nya pula segala pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah, Maha Suci Allah, tidak ada Tuhan selalin Allah, Allah Maha Besar. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Kemudian mengucapkan: ‘Allahummaghfir lii’ (Ya Allah, ampunilah aku). Atau do’a yang lain, niscaya akan dikabulkan do’anya. Jika ia berwudhu’ dan shalat, maka diterimalah shalatnya” (HR. Bukhari, dll)

1. Do’a Sebelum Makan
Allahumma baarik lanaa fiimaa razaqtana wa qinaa ‘adzaa-bannaari Bismillahirrahmaaniraahiimi.
Artinya
 Ya Allah berkahilah kami dalam rezki yang telah Engkau limpahkan kepada kami, dan peliharalah kami dari siksa neraka. Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (HR. Ibnu as-Sani)

2. Do’a Sesudah Makan
Alhamdulillahilladzii ath’amanaa wa saqaanaa wa ja’alanaa muslimiina.
Artinya 
 Segala puji bagi Allah Yang telah memberi kami makan dan minum, serta menjadikan kami muslim. (HR. Abu Daud)
 
Alhamdulilaahilladzi ath’amanii hadzaa wa razaqaniihi min ghayri hawlin minnii wa laa quwwatin.
Artinya 
Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini dan melipahkannya kepadaku tanpa daya dan kekuatanku. (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

3. Do’a Sebelum Tidur
Bismikallahhumma ahyaa wa bismika amuutu.
Artinya
 Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup dan dengan nama-Mu aku mati. (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Do’a Sesudah Bangun Tidur
Alhamdulillaahil ladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilayhin nusyuuru.
Artinya
Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami. Kepada-Nya-lah kami akan kembali (HR. Bukhari)

5. Do’a Terkejut Bangun Dari Tidur
A’uudzu bikalimaatillahit tammaati min ghadhabihi wa min syarri ‘ibaadihi wa min hamazaatisy syayaathiini wa an yahdhuruuni.
Artinya
 Aku berlindung dengan kalimah Allah yang sempurna dari kemarahan Allah dari kejahatan hamba-hamba-Nya dan dari gangguan setan dan dari kehadiran mereka (HR. Abu Daud dan Tir-middzi)

6. Do’a Mimpi Baik
Alhamudlillaahirrabbil ‘alamiin.
Artinya
 Segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam (HR. Bukhari)

7. Do’a Mimpi Tidak Baik
Allaahumma innii a;uudzu bika min ‘amalisy syaythaani, wa sayyi’aatil ahlaami.
Artinya
 Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan setan dan dari mimpi-mimpi yang buruk (HR. Ibn as-Sani)

Demikian beberapa Kumpulan Doa Sehari Hari yang dapat kami berikan insaAllah bermanfaat dan apabila para pengunjung setia blog Hikmah Kehidupan ingin membaca artikel seperti   Penghambat Terkabulnya DoaDoa Dan Wiridan Ibu Hamil Sampai Melahirkan ,dll dapat dibaca disini terimakasi atas kunjungannya.

sumber : http://pengumpulhikmah.blogspot.in/2013/05/kumpulan-doa-sehari-hari.html

Jumat, Juni 19, 2015

Ramadhan 1436 H

Kamis 18 Juni 2015 bertepatan dengan 1 Ramadhan 1436 ananda Rifqi ikutan shaum bersama mama dan papa. Bangun sahur pukul 03.30 pada saat makan sahur, ananda Rifqi terkantuk-kantuk. Namun karena didorong semangat agar bisa shaum penuh tahun ini, ananda Rifqi pun menghabiskan menu sahurnya. Berikut foto-fotonya..


Berdoa dulu sebelum makan

Add caption