Jumat, Juli 22, 2016

KETIKA AMAL TIDAK MENGANTARKAN SESEORANG KESURGA


23. Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan
(Al Furqon 23 )
Abu Hurairah pernah mengisahkan tentang tiga nasib orang yang beramal, tetapi tidak beruntung. Mereka akhirnya masuk neraka. Padahal, selama hidup di dunia mereka yakin dengan amalnya yang bakal mengantarkan mereka ke surga.

Kisah ini dinukilkan oleh banyak pakar hadis, antara lain, Imam Muslim, an-Nasa’i, Ahmad, dan Baihaqy. Kisah yang sama dalam teks hadis yang berbeda juga diriwayatkan oleh Imam at- Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al-Hakim.

Namun, pengadilan Allah SWT jauh berbeda dengan pengadilan manusia. Allah Mahatahu segala hal meski ukurannya seberat atom. Allah pun memiliki sifat Mahaadil yang memutuskan setiap perkara tanpa zalim.

Tiga orang yang merasa menjadi calon penghuni surga ini pun tergelak. Mereka yang terdiri atas orang-orang saleh itu justru berakhir di neraka.

Apa gerangan yang terjadi? Rupanya mereka hanyalah saleh di pandangan manusia, tapi tak menauhidkan Allah dalam niat amal mereka.

Orang pertama dipanggil menghadap Allah. Ia merupakan seorang pria yang mati syahid. Si pria mengakui banyaknya nikmat yang diberikan Allah padanya. Allah pun bertanya, “Apa yang telah kau perbuat dengan berbagai nikmat itu?”

Mujahid itu menjawab, “Saya telah berperang karena-Mu sehingga saya mati syahid,” ujarnya.

Allah pun menyangkalnya, “Kau telah berdusta. Kau berperang agar namamu disebut manusia sebagai orang yang pemberani. Dan, ternyata kamu telah disebut-sebut demikian,” firman-Nya.

Kemudian, Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-Nya. Akhirnya, mujahid riya itu pun diseret wajahnya dan dilempar ke neraka.

Orang kedua pun dipanggil. Ia merupakan seorang ahli agama yang alim. Penuntut ilmu yang mengamalkan ilmunya dan mengajarkan Alquran kepada manusia.

Seperti orang pertama, Allah bertanya hal sama, “Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat itu?”

Sang ulama menjawab, “Saya telah membaca, mempelajari, dan mengajarkannya Alquran karena Engkau,” ujarnya.

Namun, Allah berfirman, “Kamu berdusta. Kau mempelajari ilmu agar disebut sebagai seorang alim dan kau membaca Alquran agar kamu disebut sebagai seorang qari.”

Allah mengadili. Kemudian, Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-Nya. Akhirnya, alim ulama itu pun diseret wajahnya dan dilempar ke neraka.

Selanjutnya, orang ketiga pun dipanggil. Ia seorang yang memiliki kekayaan berlimpah dan terkenal karena kedermawanannya, didatangkan di hadapan Allah. Seperti orang pertama dan kedua, Allah bertanya hal sama, “Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat itu?”

Sang dermawan itu menjawab, “Semua harta kekayaan yang aku punya tidak aku sukai, kecuali aku sedekah karena- Mu.”

Allah kembali berfirman, “Kamu berdusta. Kamu melakukan itu agar orang-orang menyebutmu orang dermawan dan murah hati.”

Kemudian, Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-Nya. Akhirnya, sang dermawan itu pun diseret wajahnya dan dilempar ke neraka.

Abu Hurairah juga berkata, Rasulullah SAW pernah menepuk pahaku seraya bersabda, “Wahai Abu Hurairah, mereka adalah manusia pertama yang merasakan panasnya api neraka jahanam pada hari kiamat nanti.” (HR Muslim).

URGENSI IKHLAS
 
Dari Hadis Riwayat Muslim di atas, dapat ditarik sebuah pelajaran berharga bahwa keikhlasan dalam beramal menjadi hal yang sangat penting.

Betapa pun seorang hamba Allah yang mati di medan jihad, berilmu, dan membaca Alquran, bahkan seorang yang sangat dermawanan, namun tidak disertai keikhlasan maka menjadi sia-sia amalnya.

Kata ikhlas bukan karena bibir ini berucap ikhlas. Tidak berucapkan ikhlas pun bisa jadi tanpa disadari keikhlasan bercampur dengan riya. Membuat seseorang ingin menunjukkan dirinya adalah seseorang yang pemberani, berilmu, dan dermawan.

Orang bijak berkata, “Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikannya seperti dia menyembunyikan kejelekannya. Keikhlasan niat dalam amalmu lebih bermakna daripada amal itu sendiri.”

Mati syahid mempunyai ganjaran yang begitu besar di hadapan Allah SWT. Akan tetapi, ganjaran yang besar itu tak akan pernah ada jika salah niat. Atau, bahkan tidak fokus dalam niatnya, betapa rugi orang-orang seperti itu.

Seorang pencari ilmu yang sudah memiliki gelar, pekerjaan dengan gaji besar. Namun, ternyata niatnya berilmu untuk halhal duniawi, bukan demi ridha Allah. Maka, sia-sia semua itu di hadapan Allah.

Seorang pembaca Alquran yang rajin tilawah dan merdu suaranya. Namun, ternyata bukan ridha Allah yang dikejarnya. Hanya decak kagum yang menyebutnya sebagai seorang qari atau qariah. Maka, semua yang diperbuatnya menjadi percuma di hadapan Allah SWT.

Termasuk, untuk seseorang yang bergiat dalam dunia dakwah. Meski yang disampaikannya ayat Alquran dan hadis Rasulullah jika yang ia harapkan pandangan banyak orang yang mengganggapnya seorang dai. Namun, tak ada sekalipun Allah dalam hatinya, hal yang ia lakukan sia-sia.

Sumber :
- republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/14/10/20/ndqoeo-ketika-amal-tak-mengantarkan-ke-surga-1 
- http://www.fadhilza.com/2015/03/kkehidupan-akhirat/ketika-amal-tidak-mengantarkan-seseorang-kesurga.html




Tidak ada komentar: