Kamis, Oktober 08, 2015

Beginilah Cara Berbakti pada Orang Tua Setelah Mereka Tiada


Orang tua adalah orang yang paling berjasa dalam hidup kita. Mereka membesarkan, mendidik, dan merelakan banyak hal demi kehidupan anaknya agar lebih baik. Sebagai seorang anak, berbakti kepada orang tua adalah kewajiban yang harus terpenuhi. Namun, bagaimana cara berbakti pada orang tua setelah mereka tiada?
Beginilah Cara Berbakti pada Orang Tua Setelah Mereka Tiada
Bagaimana Cara berbakti pada Orang Tua Setelah Mereka Tiada?
Salah satu amalan yang paling dicintai oleh Allah selain shalat lima waktu adalah berbakti kepada orang tua. Hal itu sudah menjadi kewajiban bagi sang anak. Berbakti kepada orang tua tidak hanya bisa dilakukan ketika mereka masih hidup. Tapi, berbakti kepada orang tua yang telah wafat juga bisa dilakukan. Hal ini memudahkan kita untuk senantiasa memuliakan orang tua meskipun mereka sudah tiada. Inilah 4 cara berbakti kepada orang tua menurut Islam.

1. Mendo’akannya
Terputuslah segala amal manusia setelah mereka meninggal kecuali tiga perkara. Salah satunya adalah doa anak yang sholih dan sholihah. Saat orang tua sudah meninggal, maka sebagai seorang anak bisa mendo’akan mereka agar diampuni segala kesalahannya, diberi kemuliaan di sisi-Nya, dan dilapangkan alam kuburnya. Doa tersebut bisa dipanjatkan kapan saja dan dimana saja. Tapi akan lebih baik jika selalu dipanjatkan setelah sholat lima waktu. Dan untuk masalah tempat, sang anak bisa mendo’akannya tanpa pergi berziarah. Karena tujuan utama ziarah bukanlah untuk berdoa, tapi mengingatkan kita akan kematian agar senantiasa ingat pada Allah.

Selain itu, ada hal lain yang perlu diperhatikan dalam mendo’akan orang tua kita. Kita tidak diperkenankan untuk mendo’akan orang tua kita apabila mereka meninggal dalam keadaan kafir atau tidak memeluk agama islam. Namun, apabila mereka masih hidup meskipun agamanya bukan islam, kita harus mendo’akan mereka agar mendapat hidayah Allah.

2. Memenuhi janji orang tua
Saat kita mengetahui keinginan-keinginan baik orang tua yang belum terlaksana karena telah dipanggil oleh Allah, maka sebagai anaknya kita harus meneruskan niat baik mereka. Selain sebagai amalan baik untuk kita, tapi juga merupakan amalan baik untuk orang tua kita yang telah tiada. Karena meskipun hanya suatu niat, jika itu niat kebaikan maka sudah dihitung pahala oleh Allah. Sebagai contohnya ketika mereka berkeinginan untuk membangun masjid, maka kita harus berusaha sekeras mungkin untuk melaksanakan keinginan tersebut. Karena hal itu akan menjadi ladang pahala bagi orang tua kita di akhirat.

3. Menjalin silaturrahmi dengan keluarga dan teman-teman orang tua
Salah satu cara berbakti kepada orang tua setelah mereka meninggal adalah menjaga hubungan dengan orang-orang kenalan orang tua kita. Sebagai makhluk sosial, orang tua kita pasti memiliki teman-teman atau tetangga yang sering mereka kunjungi untuk bersilaturrahmi. Saat mereka sudah tiada, bukan berarti silaturrahmi mereka dapat terputus. Sebagai anak yang berbakti, kita harus menjaga hubungan baik tersebut agar menjadi berkah bagi orang tua di akhirat. Misalnya saat hidup, orang tua kita sering mengunjungi pak RT untuk bersilaturrahmi, maka setelah mereka tiada kitalah yang harus menggantikannya.

4. Bersedekah atas nama orang tua
Salah satu amalan yang paling mudah dilakukan adalah sedekah. Saat kita melakukan sedekah, maka niatkanlah sedekah itu untuk orang tua kita jika memang kita menginginkannya. Dengan sedekah itu maka amalan baik akan mengalir ke orang tua kita.

Demikian cara berbakti pada orang tua setelah mereka tiada. Ketiadaan orang tua bukanlah menjadi penghalang bagi kita sebagai anak untuk senantiasa mengirimkan ladang pahala bagi mereka di akhirat. Semoga dengan cara ini dapat menambah amalan baik mereka sehingga memudahkan jalan mereka menuju surga. 
 
 
sumber : http://www.kumpulanmisteri.com/2015/09/beginilah-cara-berbakti-pada-orang-tua.html

Selasa, September 29, 2015

Hanya Butuh 7 Menit Hilangkan Sakit Gigi, Begini Caranya!





 
Siapapun tentu tidak menyukai penyakit yang satu ini, karena selain sakitnya yang luar biasa juga bisa membuat anda susah makan. Orang yang menderita sakit gigi tidak segan-segan menangis karena tak tahan dengan sakitnya, bahkan bukan hanya gigi saja yang terasa sakit tapi juga anggota badan lainnya terutama kepala.
 
Bagaimana mengobatinya? banyak obat medis yang bisa diminum, baik obat warung maupun obat dengan resep dokter. Namun sebenarnya ada trik jitu untuk menyembuhkan sakit gigi dalam waktu yang relatif sangat singkat tanpa harus meminum obat. Ya, hanya kira-kira 7 menit sakit gigi anda hilang. anda pasti penasaran bukan?
 
Tips ini sudah melalui tahapan penelitian di Kanada sejak tahun 80-an. Penelitian ini pun berhasil menemukan sebuah cara yang dinilai paling ampuh hilangkan rasa sakit gigi dalam waktu sesingkat mungkin.
 
Hasil dari penelitian tersebut menjelaskan bahwa es batu bisa hilangkan sakit gigi, jadi anda tak perlu repot-repot minum obat atau pergi ke dokter, cukup dengan es batu saja rasa sakit gigi anda hilang seketika. bagaimana caranya? kali ini anda tak perlu buka mulut, anda hanya perlu meletakan es batu tersebut diatas tangan dibagian sela antara jempol dan telunjuk selama 5-7 menit.
 
Mengapa demikian? karena daerah tersebut ternyata merupakan tempat yang menjadi ujung syaraf yang terhubung dengan pusat nyeri di otak. Anda hanya cukup menggosok-gosokan es batu di titik tersebut maka dalam waktu 7 menit, rasa nyeri pada gigi anda akan hilang.
 
Silakan coba dan buktikan, bagikan tips ini keteman-teman yang membutuhkan, terutama mereka yang sering-sering sakit gigi, dengan membagikan artikel ini anda sudah membantu banyak orang. 
 
sumber :  http://www.kabar9.org/2015/09/hanya-butuh-7-menit-hilangkan-sakit.html

Senin, September 28, 2015

Adab Berdoa yang Benar Agar Dikabulkan Allah SWT



Ada beberapa adab dan etika bagi orang yang berdoa agar doanya dikabulkan oleh Allah, di antaranya:

1. Mengawali doa dengan memanjatkan puji-pujian kepada Allah serta shalawat dan salam kepada Rasulullah.

2. Menjauhi perkara yang diharamkan.

3. Hatinya ikhlas.

4. Melakukan amal saleh terlebih dahulu.

5. Berdoa semata-mata kepada Allah.

6. Berdoa dalam keadaan suci.

7. Menghadap kiblat.

8. Memperbanyak puji-pujian kepada Allah dan membaca shalawat kepada Nabi saw.

9. Membuka kedua telapak tangan dan mengangkatnya setinggi pundak.

Referensi: Syarah Hadits Arbain an-Nawawi
sumber : http://jamaahmasjid.blogspot.co.id/2010/03/adab-berdoa-yang-benar-agar-dikabulkan.html

Selasa, September 08, 2015

Halal untuk Kami, Haram untuk Tuan

haji

Adalah ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al Hanzhali al Marwazi, ulama terkenal di makkah yang menceritakan riwayat ini.

Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka :

“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.

“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.

“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”

“Tidak satupun”

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.

“Apa?” ia menangis dalam mimpinya. “Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”
Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.

“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni . Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”

“Kok bisa”

“Itu Kehendak Allah”

“Siapa orang tersebut?”

“Sa’id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq (damaskus sekarang)”

Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun, Sepulang haji, ia tidak langsung pulang kerumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria.

Sampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.

“Ada, di tepi kota” Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh.

“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu.

“Betul, siapa tuan?”

“Aku Abdullah bin Mubarak”

Said pun terharu, “bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”


Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya.

“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”

“Wah saya sendiri tidak tahu!”

“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini.

Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.

“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar :
Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarika laka. Ya Allah, aku datang karena panggilanMu. Tiada sekutu bagiMu. Segala ni’mat dan puji adalah kepunyanMu dan kekuasaanMu. Tiada sekutu bagiMu.
Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis
Ya allah aku rindu Mekah. Ya Allah aku rindu melihat kabah. Ijinkan aku datang…..Ijinkan aku datang ya Allah..
Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu.
Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji.
“Saya sudah siap berhaji”

“Tapi anda batal berangkat haji”

“Benar”

“Apa yang terjadi?”

“Istri saya hamil, dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat”

“Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?

“ya sayang”

“Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku”

“Ustadz, sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh. Disitu ada seorang janda dan enam anaknya. Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit. Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya.

Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan :
“tidak boleh tuan”

“Dijual berapapun akan saya beli”

“Makanan itu tidak dijual, tuan” katanya sambil berlinang mata.

Akhirnya saya tanya kenapa?

Sambil menangis, janda itu berkata “daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan” katanya.

Dalam hati saya: Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim?

Karena itu saya mendesaknya lagi “Kenapa?”

“Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Dirumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak”.

“Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram”.

Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang. Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.

“Ini masakan untuk mu”, Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.
”Pakailah uang ini untuk mu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi”

Ya Allah……… disinilah Hajiku
Ya Allah……… disinilah Mekahku.
Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak tak bisa menahan air mata.

sumber : http://islamedia.id/halal-untuk-kami-haram-untuk-tuan/

Rabu, Agustus 26, 2015

Sembuh dari Kanker Leher Rahim Stadium III setelah Bersedekah


Sembuh dari Kanker Leher Rahim Stadium III setelah Bersedekah

ilustrasi © nafedz.com

Informasi yang diterima dari sang dokter kepada sang suami terkait kondisi istrinya itu bagai petir nan bergemuruh disertai kilat yang mengagetkan. Jika mampu, menolak atau kembali ke masa lalu agar bisa mencegah adalah pilihan yang pasti diambil. Namun, informasi itu bagai vonis hakim atas kesalahan ’terdakwa’ yang tinggal dieksekusi.
 
Lantaran tak menerima informasi yang disampaikan oleh dokter itu, sang suami pun berupaya memeriksakan istrinya kepada dua dokter yang lain. Berharap diagnosis dokter pertama salah, ternyata dua dokter yang didatangi belakangan menyampaikan informasi serupa. Sang istri positif mengidap kanker leher rahim (Ca Cervix) stadium III.

Lepas berkonsultasi, jika hendak dilakuan tindakan penyembuhan berupa terapi kimia dan sebagainya, sang dokter menyebut angka delapan puluh juta rupiah. Meski terbilang kaya, rupaya sang suami berpkir lain. Baginya bukan soal angkanya, tetapi melihat kemungkinan yang tidak diinginkan. Apalagi, jika pun delapan puluh juta tunai dibayarkan untuk tindakan, tak ada satu pun dokter ataupun rumah sakit yang menjamin kesembuhan bagi istrinya itu.

Maka, sang suami menempuh jalan yang tak biasa. Ia berniat mengumpulkan uang sejumlah itu, namun untuk disedekahkan kepada yang berhak menerimanya. Senilai delapan puluh juta itu dibagikan kepada panti asuhan, fakir miskin, janda, dan lainnya.

Selain itu sang suami memberikan obat-obatan herbal kepada istrinya, secara rutin sesuai rekomendasi tabib. Berbilang waktu kemudian, sang suami berniat memeriksakan istrinya. Keduanya mendatangi dokter untuk memastikan kondisi penyakit yang divoniskan beberapa bulan lalu.

Hampir tak percaya, pasangan suami istri itu hanya bisa memuji nama Allah Ta’ala. Berdasarkan pemeriksaan dokter, sama sekali tak dijumpai jejak kanker leher rahim yang divoniskan kepada sang istri. Bersih. Istrinya sehat.

Allah Ta’ala yang menciptakan sakit, Dia pula yang berikan obatnya. Dia Mahakuasa untuk menyembuhkan siapa yang dikehendaki-Nya. Hanya dengan sekali “Kun”, maka terjadilah apa yang Dia Kehendaki.

Dalam kaca mata keimanan, fenomena ini bisa dijelaskan dengan Kemahakuasaan Allah Ta’ala. Dia memberikan sesuatu sesuai sunnah-Nya. Kesembuhan yang Dia berikan dalam kisah nyata di atas sudah melalui usaha panjang dari hamba-Nya dalam hitungan bulan dengan pengorbanan harta, tenaga dan sumber daya yang tak sedikit.

Sedekah yang dipilih oleh sang suami adalah kesadaran penuh bahwa Allah Ta’ala Mahakuasa. Ia tidak apatis sebab masih menempuh jalan herbal bagi kesembuhan sang istri sebagai sebentuk ikhtiar manusiawi. Hasilnya, Allah Ta’ala berikan kesembuhan dengan bonus: sang istri hamil. Masya Allah…

Di dalam al-Qur’an, apa yang dilakukan oleh pasangan suami istri ini telah digaransi dalam bab taqwa. Siapa yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala, maka Dia akan memberikan jalan keluar dari arah yang tidak diduga-duga.

Patut dicatat, barangkali fenomena ini tak lantas berlaku bagi semua orang. Sebab perbedaan tingkat iman, taqwa dan kemampuan ekonomi, hendaknya tidak menyamaratakan kasus. Karena dikhawatirkan seorang hamba akan ‘menyalahkan’ Allah Ta’ala tatkala melakukan hal serupa, tapi hasilnya berbeda. [Pirman]
*Diceritakan ulang secara bebas dari buku “Muslim Klakson”.

sumber : http://kisahikmah.com/sembuh-dari-kanker-leher-rahim-stadium-iii-setelah-bersedekah/

Rabu, Agustus 12, 2015

Polisi Zaman Kompeni

Cuma ada tiga polisi jujur di negeri ini: polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng.


DALAM canda yang dilontarkan Gus Dur itu tersimpan kritik pedas bahwa kejujuran di tubuh organisasi kepolisian telah hilang dan menjadi barang langka. Benarkah demikian?

Belakangan ini polisi sedang menghadapi cobaan terberat sepanjang keberadaannya di Republik ini. Perkara Susno Duadji, rekening gendut, hingga yang paling beken Gayus Halomoan Tambunan membuat lembaga kepolisian mendapat sorotan dari masyarakat. Kasak-kusuk tentang kinerja polisi pun sudah beredar luas dari mulut ke mulut dan kuping ke kuping, menyisakan sejumput ragu atas kinerja lembaga kepolisian.

Beberapa ungkapan kekecewaan dan plesetan sindiran terhadap kinerja polisi kerap mewarnai perbincangan di warung kopi: “kehilangan rumah” saat mengurus motor yang dicuri atau KUHP, Kasih Uang Habis Perkara. Begitulah citra polisi di mata masyarakat. Penuh rekayasa dan manipulasi. Bagaimana sebenarnya peran polisi di dalam sejarah? Apakah benar polisi selalu identik dengan rekayasa dan segala tuduhan miring?

Marieke Bloembergen, sejarawan yang bekerja sebagai peneliti di Lembaga Kajian Asia Tenggara dan Karibia (KITLV) di Leiden, Belanda, menulis sebuah buku tebal tentang rekam jejak polisi di Hindia Belanda. Dalam buku terjemahan dari bahasa Belanda setebal 500 halaman lebih itu Marieke membeberkan sejarah polisi di Hindia Belanda sejak awal pembentukannya pada 1897 sampai keruntuhan negara kolonial pada 1942.

Menurut Marieke, polisi di Hindia Belanda merupakan produk langsung dari ketakutan dan kepedulian. Sejak 1870 masyarakat Eropa mulai membanjiri dan menetap di Hindia Belanda. Mereka merasa was-was karena bagaimana pun mereka tinggal di sebuah negeri asing di mana masyarakat di sekeliling mereka punya budaya dan pemahaman lain atas komunitas kulit putih.

Perlawanan kaum pribumi terhadap otoritas kolonial sebagaimana terjadi pada 1888 di Banten dan sebelumnya pada 1854 menjadi catatan tersendiri buat pemerintah kolonial untuk mendirikan sebuah organisasi kepolisian modern untuk menjaga kepentingan dan keberadaan mereka di Hindia Belanda. Kemunculan politik etis dan terciptanya golongan elit pribumi yang menginisiasi gerakan nasionalisme di Hindia Belanda mendorong pemerintah kolonial lebih aktif memodernisasi kepolisiannya. Selain sebagai penjaga keamanan juga untuk “mewujudkan gagasan bahwa urusan keamanan adalah bagian penting dari kewajiban (penyelenggaraan) negara sekalipun dengan segala cara tetap ingin mempertahankan status quo kolonial,” tulis Marieke dalam bukunya.

Pemerintah kolonial pun memikirkan fungsi sosial lain dari kepolisian. Ia harusnya mampu menjaga ketertiban masyarakat; memastikan masyarakat tetap patuh pada peraturan pemerintah; dan memuaskan kebutuhan masyarakat akan rasa aman.

Kepolisian di Hindia Belanda dibentuk sebagai tanggapan dari negeri induk terhadap persoalan bagaimana memelihara dan menjaga keamanan di negara koloni. Ironisnya, ketika lembaga kepolisian ini dibentuk, tak ada seorang pribumi pun yang dimintai masukan tentang bagaimana seharusnya kepolisian bekerja. Menurut Marieke, ketika 1930 anggota kepolisian mencapai jumlah terbesarnya, yakni 54 ribu personel, 96 persen di antaranya justru berasal dari golongan pribumi. Sebagian besar dari mereka, kecuali anak bupati yang diberi previlese sebagai petinggi polisi, menempati posisi sebagai anggota terendah dalam struktur kepolisian yang hierarkis.

Film Si Pitung (1970), disutradarai Nawi Ismail, menggambarkan situasi yang mendekati kebenaran, di mana kepala polisi yang diperankan Hamid Arif adalah seorang Belanda sementara anak buahnya terdiri dari pribumi berkulit sawomatang. Meneer Belanda kepala polisi itu menggunakan perpanjangan tangan kolonial lain, yakni Demang Meester, untuk menangkap Pitung yang dianggap selalu meresahkan masyarakat kulit putih di Betawi yang dipersonifikasi sebagai komunitas penjajah yang menebarkan ketidakadilan pada rakyat jelata.

Semenjak tahun 1830-an upaya negara kolonial untuk mengintegrasikan dirinya ke dalam sistem ekonomi imperialis mulai berkembang. Satu dekade setelah Perang Jawa, investasi asing mulai masuk dan berwujud dalam berbagai macam industri perkebunan dan pertambangan. Pemerintah kolonial harus memastikan kalau pihak swasta penanam modal itu menadapatkan perlindungan dan jaminan keamanan dari segala gangguan yang bisa sewaktu-waktu datang dari kelompok pribumi.

Memang pada 1860, pejabat tinggi kolonial di Hindia Belanda melontarkan kritik pedas pada kinerja kepolisian yang tak sanggup memelihara keamanan dan ketertiban di kalangan masyarakat. Menanggapi kritik demikian pemerintah kolonial pun mendirikan sebuah komisi kepolisian yang memiliki tugas menelaah dan mencari jalan keluar agar ada perbaikan pada mutu kerja kepolisian.

Apa yang terjadi pada zaman itu mengingatkan kita pada pembentukan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) yang didirikan pada 1 Juni 2006. Tugas Kompolnas pun mirip-mirip dengan komisi kepolisian yang dibentuk pada zaman kolonial, yakni berupaya meningkatkan kinerja kepolisian Indonesia melalui masukan dan saran kepada Presiden RI.

Pada zaman kolonial, sebagaimana temuan Marieke, ternyata polisi pun ambil urusan menangani soal-soal akhlak. Pada 1937, atas permintaan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer, polisi mengadakan penyelidikan perkara homoseksualitas yang marak terjadi di kalangan pejabat tinggi pemerintah. Perintah gubernur kepada polisi itu didahului oleh sebuah surat dari Christelijke Staaprtij (CSP) yang melihat telah banyak dosa yang dibuat para pejabat tinggi karena menjalankan aktivitas homoseksual. Kepolisian kolonial pun menebar agen reserse untuk menangkap homoseksual dan memenjarakan mereka. Menurut Marieke, cara kepolisian kolonial memberantas homoseksualitas tak jauh berbeda dari cara mereka memberantas komunisme yang melakukan pemberontakan pada 1926.

Negara Hindia Belanda digambarkan sejarawan Henk Schulte Nordholdt sebagai negara yang penuh dengan kekerasan. Karena itu, guna memajukan kepentingan ekonomi dan kekuasaan politiknya, negara kolonial ini praktis membutuhkan polisi sebagai perpanjangan tangan pemerintah yang bisa secara aktif menjalankan kebijakan dan menegakkan “rust en orde” atau keamanan dan ketertiban. Polisi di era kolonial pada kenyataannya telah merambah ke fungsi lain, dari sekadar memberikan rasa aman kepada komunitas Eropa dan masyarakat hingga mencakup persoalan politik dan polisi moral. Peran yang luas dan menggurita itu membuat sejarawan Harry Poeze menyebut Hindia Belanda sebagai negara polisi (politiestaat).

Penelitian sejarawan alumnus Universiteit van Amsterdam itu berhasil memberikan gambaran yang jelas tentang asal-usul lembaga kepolisian modern di Hindia Belanda sekaligus memberikan dasar pengetahuan holistik untuk memahami bentuk dan kinerja kepolisian Indonesia di masa sekarang. Penelitiannya, yang telah diterbitkan menjadi buku Polisi Zaman Hindia Belanda: Dari Kepedulian dan Ketakutan (Penerbit Buku Kompas, 2011), merupakan jalan masuk yang lempang bagi sarjana dan peneliti yang hendak menelusuri sekaligus menelaah lembaga kepolisian dari beragam perspektif keilmuan.

 sumber : http://historia.id/modern/polisi-zaman-kumpeni

Senin, Agustus 10, 2015

Ayahanda H. Abdul Azis Gaffar Berpulang ke Rahmatullah

Senin subuh sekitar pukul 05.00 wita 3 Agustus 2015, ayahanda tercinta H. Abdul Azis Gaffar berpulang ke rahmatullah di kediaman beliau dalam usia +/- 80 tahun (lahir 6 Desember 1934). Beliau dimakamkan di pemakaman keluarga Segeri Kabupaten Pangkajene Kepulauan berdampingan dengan kedua orangtua dan beberapa saudara serta kerabat beliau. Alhamdulillah walaupun telat karena pesawat Lion Air yang kami tumpangi mengalami delay yang seharusnya take off 11.20 nyatanya pkl 13.20, kami dapat hadir dipelaksanaan pemakaman beliau ba'da isya.
Selamat jalan Pa. Allaahummag firlahu warhamhu wa'fu anhu wa akrim nuzulahu wa wassi' madkhalahu wanuqqihi minal khataya wa aaizhu min azaabil qabri wa azaabin naar, aamiin ya rabbal aalamiin.
Setelah menghadiri pemakaman ayahanda tercinta keesokan harinya kami sekeluarga, Musa dan Karya sekeluarga melanjutkan ziarah ke kuburan ibunda tercinta Hj. Hurriyah Sjafiie di Jampue Pinrang.

lagi khusyu berdoa di makam almarhumah mama

Salsa lagi in action

Foto bersama di makam mama

Alm Bapak dan almh Rini berfoto berdua di kediaman nenek di Pangkep


Bapak berfoto di depan kantor Biro Kesra bersama mobil Fiat beliau

Foto keluarga di Taman Mini 1977

Bapak sewaktu mengikuti Diklat Sespa III tahun 1980