Senin, April 28, 2014

Tingkatan-tingkatan Kecepatan Melewati Shirath


Di akhirat nanti, sebelum masuk surga, seseorang harus melewati shirath. Sebuah jembatan yang menuju surga. Siapa yang dapat melaluinya, ia akan masuk surga, sedangkan siapa yang terjatuh/terlempar dari shirath, ia akan masuk ke dalam neraka.
Dari hadits Rasulullah kita menjadi tahu bahwa semakin cepat seseorang melewati shirath, semakin cepat pula ia menuju surga. Kecepatan melewati shirath, bergantung pula pada amalannya. Dan, inilah enam tingkatan kecepatan melewati shirath :

1. Secepat kilat
2. Secepat angin
3. Seperti burung terbang
4. Berlari kencang
5. Berjalan pelan
6. Merangkak


قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْمَعُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى النَّاسَ فَيَقُومُ الْمُؤْمِنُونَ حَتَّى تُزْلَفَ لَهُمْ الْجَنَّةُ فَيَأْتُونَ آدَمَ فَيَقُولُونَ يَا أَبَانَا اسْتَفْتِحْ لَنَا الْجَنَّةَ فَيَقُولُ وَهَلْ أَخْرَجَكُمْ مِنْ الْجَنَّةِ إِلَّا خَطِيئَةُ أَبِيكُمْ آدَمَ لَسْتُ بِصَاحِبِ ذَلِكَ اذْهَبُوا إِلَى ابْنِي إِبْرَاهِيمَ خَلِيلِ اللَّهِ قَالَ فَيَقُولُ إِبْرَاهِيمُ لَسْتُ بِصَاحِبِ ذَلِكَ إِنَّمَا كُنْتُ خَلِيلًا مِنْ وَرَاءَ وَرَاءَ اعْمِدُوا إِلَى مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي كَلَّمَهُ اللَّهُ تَكْلِيمًا فَيَأْتُونَ مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُ لَسْتُ بِصَاحِبِ ذَلِكَ اذْهَبُوا إِلَى عِيسَى كَلِمَةِ اللَّهِ وَرُوحِهِ فَيَقُولُ عِيسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَسْتُ بِصَاحِبِ ذَلِكَ فَيَأْتُونَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُومُ فَيُؤْذَنُ لَهُ وَتُرْسَلُ الْأَمَانَةُ وَالرَّحِمُ فَتَقُومَانِ جَنَبَتَيْ الصِّرَاطِ يَمِينًا وَشِمَالًا فَيَمُرُّ أَوَّلُكُمْ كَالْبَرْقِ قَالَ قُلْتُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي أَيُّ شَيْءٍ كَمَرِّ الْبَرْقِ قَالَ أَلَمْ تَرَوْا إِلَى الْبَرْقِ كَيْفَ يَمُرُّ وَيَرْجِعُ فِي طَرْفَةِ عَيْنٍ ثُمَّ كَمَرِّ الرِّيحِ ثُمَّ كَمَرِّ الطَّيْرِ وَشَدِّ الرِّجَالِ تَجْرِي بِهِمْ أَعْمَالُهُمْ وَنَبِيُّكُمْ قَائِمٌ عَلَى الصِّرَاطِ يَقُولُ رَبِّ سَلِّمْ سَلِّمْ حَتَّى تَعْجِزَ أَعْمَالُ الْعِبَادِ حَتَّى يَجِيءَ الرَّجُلُ فَلَا يَسْتَطِيعُ السَّيْرَ إِلَّا زَحْفًا قَالَ وَفِي حَافَتَيْ الصِّرَاطِ كَلَالِيبُ مُعَلَّقَةٌ مَأْمُورَةٌ بِأَخْذِ مَنْ أُمِرَتْ بِهِ فَمَخْدُوشٌ نَاجٍ وَمَكْدُوسٌ فِي النَّارِ وَالَّذِي نَفْسُ أَبِي هُرَيْرَةَ بِيَدِهِ إِنَّ قَعْرَ جَهَنَّمَ لَسَبْعُونَ خَرِيفًا

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kelak di hari Akhir Allah Tabaraka wa Ta'ala akan mengumpulkan semua manusia. Lalu orang-orang mukmin bangkit, dan surga telah didekatkan kepada mereka. Mereka mendatangi Nabi Adam seraya berkata, 'Wahai ayah kami, mohonkanlah agar pintu surga segera dibukakan untuk kami.' Adam menjawab, '(Aku tidak pantas memintakan hal ini untuk kalian), bukankah yang mengeluarkan kalian adalah karena kesalahan bapak kalian dari surga ini? Pergilah kalian dan mintalah kepada anakku Ibrahim Khalilullah'. Rasulullah bersabda: "Lalu Ibrahim menjawab, 'Aku tidak pantas memintakan hal ini untuk kalian, aku hanyalah seorang Khalil (kekasih) yang di depannya masih ada beberapa orang kekasih. Mintalah kepada Musa shallallahu 'alaihi wasallam yang pernah diajak berbicara oleh Allah dalam sebuah percakapan'. Maka mereka pun mendatangi Musa shallallahu 'alaihi wasallam, namun dia juga berkata, 'Aku tidak pantas memintakan hal ini untuk kalian. Mintalah kepada Nabi Isa yang telah diciptakan dengan Kalimat Allah dan ditiupkan daripada-Nya'. Tapi Nabi Isa juga menolak seraya berkata, 'Aku tidak pantas memintakan hal ini untuk kalian.' Maka mereka pun mendatangi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam." Kemudian dia (muhammad) berdiri dan dibukakanlah pintu untuknya, kemudian diutuslah amanah dan silaturrahim hingga keduanya berdiri di kedua tepi shirath (jembatan), kanan dan kiri. Lalu orang yang paling cepat dari kalian saat melewati shirath adalah seperti kilat." Aku (Abu Hurairah) berkata, 'Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, secepat kilat bagaimana maksud tuan? ' Beliau menjawab, 'Tidakkah kamu melihat bagaimana kilat itu berlalu dan kembali lagi dengan sekejap mata? ' Kemudian yang kedua secepat hembusan angin, lalu secepat burung terbang, lalu ada juga orang yang berlari dengan kencang di atasnya disebabkan oleh amal kebajikannya. Ketika itu Nabi kalian berdiri di dekat shirath, dan selalu mendoakan, "Wahai Rabbku, selamatkanlah dia, selamatkanlah dia". Sampai pada hamba-hamba yang amalannya sangat sedikit, hingga ada seorang lelaki yang datang dan tidak dapat menapaki shirath itu kecuali dengan merangkak, sedang pada kedua sisinya terdapat rangkaian besi tajam yang tergantung dan akan mengambil setiap orang yang diperintahkan untuk diambil, hingga ada orang yang selamat tapi tubuhnya tercabik-cabik, dan ada pula orang yang akhirnya terlempar ke dalam api neraka. Dan Demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah ada di tangan-Nya, sesungguhnya dasarnya neraka itu dapat dicapai dengan perjalanan tujuh puluh tahun lamanya".
 
sumber : http://www.bersamadakwah.com

Kamis, April 24, 2014

Tiap Malam Arwah Kembali Ke Rumah


Di daerah pesisir pantai utara pulau Jawa terdapat puji-pujian yang sangat mengharuka. Apalagi jika dilagukan oleh suara orang tua, seolah mereka menghayati benar makna kandungannya. Biasanya pujian itu dilantunkan setiap malam jum’at sebelum jama’ah shalat maghrib dan isya. Atau seringkali dilagukan ibu-ibu menjelang yasinan dan pengajian.

Dalam bahasa Indonesia kurang lebih inti makna pujian itu adalah demikian ‘ingatlah wahai saudara seiman, anak, famili dan handai taulan. Aku datang menengok rumahku, adakah engkau sudah kirim do’a untukku. Aku di sana (di alam kubur) hidup sendirian. Sunyi sepi, hanya kiriman do’a dan bacaan qur’an darimu yang menjadi harapan’.

Pujian di atas mengandaikan suara orang tua, sanak-saudara yang lebih dahulu meninggalkan kita. Mereka setiap malam jum’at mendatangi kediaman keluarga yang masih hidup meminta belas kasihan agar dikirim do’a dan bacaan ayat-ayat al-Qur’an. Karena hanya itulah bekal tambahan untuk ruh yang telah berada di alam kubur.

Mengenai subtansi pujian tersebut ternyata memiliki dalil yang kuat dalam kitab I’anatuthalibin Juz II.  

وورد أيضا أن ارواح المؤمنين تأتى فى كل ليلة الى سماء الدنيا وتقف بحذاء بيوتها وينادى كل واحد منها بصوت خزين يااهل واقاربى وولدى يامن سكنوابيوتنا ولبسوا ثيابنا واقتسموا اموالنا هل منكم من أحد يذكرنا ويتفكرنا فى غربتنا ونحن فى سجن طويل وحصن شديد فارحمونا يرحمكم الله. ولاتبخلوا علينا قبل أن تصيروا مثلنا ياعباد الله ان الفضل الذى فى ايديكم كان فى ايدينا وكنا لاتنفق منه فى سبيل الله وحسابه ووباله علينا والمنفعة لغيرنا فان لم تنصرف اى الارواح بشيئ فتنصرف بالحسرة والحرمان وورد أيضا عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال مالميت فى قبره إلاكالغريق المغوث ينتظر دعوة تلحقه من ابنه او اخيه اوصديق له فاذا لحقته كانت أحب اليه من الدنيا ومافيها.

Keterangan dari hadits bahwa arwah orang-orang mukmin datang pada tiap malam ke langit dunia, dan berhenti di jurusan rumah-rumahnya dan berseru-seru dengan suara yang mengharukan seribu kali “wahai keluargaku, sanak-saudara, dan anak-anakku, wahai kau yang mendiami rumah-rumahku, memakai pakaianku dan membagi-bagi hartaku. Apakah ada diantara kalian yang mengingat dan memikirkanku dalam pengasinganku ini dan aku berada dalam tahanan yang cukup lama dalam benteng yang kuat. Kasihanilah kami, maka Allah akan mengasihanimu. Janganlah kamu semua bakhil kepadaku sebelum kamu (berposisi) sepertiku.Wahai hamba-hamba Allah sesungguhnya apa yang kau miliki sekarang dulu juga (pernah) ku miliki, hanya saja dulu aku tidak membelanjakannya di jalan Allah, dimana pemeriksaannya dan bahayanya menimpaku sedang kegunaannya bermanfaat kepada  orang lain”.  Jika kamu (sanak, saudara dll) tidak memperhatikannya (arwah), maka mereka (arwah-arwah itu) tidak mendapatkan oleh-oleh sesuatupun dan mereka hanya akan mendapatkan penyesalan dan kerugian. Ada pula hadits Rasulullah saw.beliau bersabda ”mayit itu di dalam kuburnya seperti orang hanyut yang meminta-minta tolong, mereka menungu-nunggu do’a dari anaknya, saudaranya atau teman-temannya. Maka jika  do’a itu sampai kepadanya nilainya jauh kebih baik dibandingkan dunia seisinya.

sumber : http://www.nu.or.id

Selasa, April 22, 2014

Mereka yang Dinaungi Allah



Pada hari kiamat, Allah SWT bakal mengumpulkan segenap manusia dari semua generasi di suatu tempat bernama mahsyar. Tempat itu berupa tempat terbuka. Di sana, tak ada satu naungan pun kecuali naungan Allah SWT.

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menggambarkan pada hari itu matahari akan berada sedekat-dekatnya dengan manusia. Dengan begitu, mereka dipastikan merasa kepanasan luar biasa. Keringat mereka bercucuran sangat deras.

Genangan keringat mereka sangat banyak. Ada yang menggenangi mata kaki, lutut, dan pinggang mereka. Bahkan, ada pula yang menenggelamkan mereka. Semua itu bergantung pada amal masing-masing.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Pada hari kiamat semua manusia berkeringat. Genangan keringat mereka di atas permukaan bumi mencapai tujuh puluh hasta. Dan, akan menggenangi mereka hingga telinga mereka.’’ (HR Bukhari dan Muslim).

Pada hari itu hanya ada tujuh golongan yang berhak atas naungan Allah. Abu Hurairah menuturkan, Rasulullah SAW bersabda, “(Terdapat) tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Siapa mereka yang beruntung itu? Pertama, pemimpin yang adil. Yakni orang yang memimpin rakyatnya dengan amanah dan tidak menghakimi mereka dengan menuruti hawa nafsunya.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.’’ (QS An-Nisaa [4] : 58).

Kedua, pemuda yang konsisten beramal kebajikan dalam hidupnya. Yakni yang beruntung mendapatkan taufik dan hidayah Allah sejak usia muda belia. Dia diberi kemudahan untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Dia terhindar dari perbuatan sia-sia, dan tak meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja. Allah SWT memuji mereka dalam firman-Nya, “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.’’ (QS Al-Kahfi [18] : 13).

Ketiga, laki-laki yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid. Yakni yang selalu berupaya keras memakmurkan masjid dalam hidupnya.


Allah SWT berfirman, “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah. Merekalah yang diharapkan termasuk golongan orang yang mendapat petunjuk.” (QS At-Taubah [9] : 18).

Keempat, dua orang laki-laki yang saling mencintai atas nama Allah. Mereka berdua berkumpul dan berpisah atas nama-Nya. Allah berfirman, “Maka kelak Allah mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lembut terhadap orang-orang mukmin, bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, yang berjuang di jalan Allah, dan tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (QS Al-Maidah [5] : 54).

Dari Abu Umamah RA Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa saling mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan karena Allah maka iman pada dirinya telah sempurna.’’ (HR Abu Dawud dan disahihkan oleh Al-Albani).

Kelima, laki-laki yang manakala diajak mesum oleh wanita jelita dan memiliki kedudukan tinggi dengan tegas dia menolak ajakan semacam itu karena takut akan Allah.

Allah berfirman, “Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari dorongan hawa nafsunya. Maka, sesungguhnya Surgalah tempat tinggal(nya).’’ (QS An-Naazi’aat [79] : 40-41).

Keenam, laki-laki yang menyedekahkan hartanya dengan ikhlas demi mendapatkan keridaan-Nya semata (diilustrasikan dalam QS Al-Baqarah [2] : 271).

Ketujuh, laki-laki yang hatinya merasa takut kepada Allah. Dengan begitu dia selalu mengingat keberadaan-Nya, menyebut-nyebut nama-Nya, merenungkan kebesaran-Nya, karunia-Nya, dan rahmat-Nya. Tak jarang hingga berlinang air matanya (dilukiskan dalam QS Al-Maidah [5] : 83). Semoga kita semua termasuk golongkan yang dinaungi Allah. Aamiin.

sumber : http://www.republika.co.id/

Kamis, April 17, 2014

Milad ASBD ke - 44

Pada hari Minggu 13 April 2014 bertempat di Al Azhar Pusat Kebayoran Baru berlangsung perayaan milad ke-44 Al Azhar Seni Bela Diri (ASBD). Perayaan diramaikan dengan pertandingan seni bela diri dari beberapa cabang ASBD temasuk Al Azhar cabang Kembangan. Ananda Rifqi turut serta bertanding mewakili sekolahnya di cabang seni keindahan jurus - kalau dalam karate namanya Kata - bersama kedua rekannya. 

Sayangnya pada saat memperagakan jurus-jurus di depan dewan juri, ananda Rifqi kelupaan sehingga seharusnya dia menghadap ke kiri eh dia menghadap ke kanan akhirnya kalah deh. 

Gak apa-apa, next time better ya Nak. Paling tidak dia udah punya pengalaman bertanding dan tampil di depan orang banyak. Berikut foto-fotonya :

Foto Bersama, Rifqi duduk kiri belakang 



Pemanasan sebelum bertanding
 


Rabu, April 16, 2014

Menafkahi Orang Tua Juga Kewajiban seorang Anak


Di dalam Islam istilah nafkah berasal dari kata nafaqah, infaq yang artinya mengeluarkan. Kata ini hanya digunakan untuk perkara yang baik saja. Fiqih mengatur hal nafkah ini dengan rinci. Siapa yang harus memberi nafkah, siapa yang berhak menerima nafkah dan juga berbagai syarat, diantaranya kewajiban anak memberi nafkah kepada orang tua. 

Kewajiban pemberian nafkah seorang anak kepada kepada orang tua berdasar pada firman Allah swt. di surat Luqman ayat 15
 
ﻭﺻﺎﺣﺒﻬﻤﺎ ﻓﻰ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻣﻌﺮﻭﻓﺎ
 
"Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik."
 
Ayat ini menjadi sumber utama rujukan diwajibkannya seorang anak memberikan nafkah hidup kepada orangtua, dengan syarat (1) orang tua dalam keadaan fakir dan lanjut usia atau (2) orang tua dalam keadaan fakir dan gila.

Demikian keterangan dalam Matan Ghayah wat Taqrib karya Abi Suja’:

ﻓﺄﻣﺎ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪﻭﻥ ﻓﺘﺠﺐ ﻧﻔﻘﺘﻬﻢ ﺑﺸﺮﻃﻴﻦ : ﺍﻟﻔﻘﺮ

ﻭﺍﻟﺰﻣﺎﻧﺔ ﺃﻭ ﺍﻟﻔﻘﺮ ﻭﺍﻟﺠﻨﻮ
 

Dari keterangan tersebut, baiknya seorang muslim segera memperhatikan kembali keadaan orang tua masing-masing. Karena hukum wajib di sini berimplikasi pada adanya dosa bila ditinggalkan. Apabila orang tua itu fakir dan sudah lanjut usia, maka wajib bagi seorang anak memberikan nafkah kepadanya. Ukuran lanjut usia tentunya berdasar pada lewatnya masa produktif yang tidak memungkinkan seseorang bekerja dan berproduksi secara mandiri. Hal ini secara otomatis mengeliminir kondisi orang tua yang berada dalam usia produktif meskipun dalam keadaan fakir.

Meski demikian kewajiban seorang anak mengabdi orang tua tidak lantas gugur karena kewajiban menafkahi ini, karena mengabdi kepada orang tua tidak hanya sebatas memberi nafkah semata. Tetapi juga menjaga dan melayani mereka.

Selasa, April 15, 2014

Karamah Habib Munzir Al Musawwa.


Ketika Gunung Papandayan bergolak dan sudah dinaikkan posisinya dari siaga 1 menjadi “awas”, maka Habib Munzir dengan santai berangkat ke sana. Sampai ke ujung kawah, beliau berdoa dan melemparkan jubahnya ke kawah. Kawah itu reda hingga kini dan kejadian itu adalah 7 tahun yang lalu (VCD nya disimpan di markas dan dilarang disebarkan).

Demikian pula ketika beliau masuk ke wilayah Beji Depok, yang terkenal dengan sihir dan dukun-dukun jahatnya, maka selesai acara Habib Munzir malam itu di keesokan harinya seorang dukun mendatangi panitia, ia berkata : "Saya ingin jumpa dengan tuan guru yang semalam buat maulid di sini..!" Semua masyarakat kaget, karena dia dukun jahat dan tak pernah shalat dan tak mau dekat dengan ulama dan sangat ditakuti. Ketika ditanya kenapa, ia berkata : "Saya mempunyai 4 Jin khodam, semalam mereka lenyap., lalu subuh tadi saya lihat mereka (Jin-jin khodam itu) sudah pakai baju putih dan sorban, dan sudah masuk islam, ketika kutanya kenapa kalian masuk islam, dan jadi begini, maka jin jin ku berkata : 'Apakah juragan tidak tahu? semalam ada Kanjeng Rasulullah saw hadir di acara Habib Munzir, kami masuk islam..!'"

Kejadian serupa di Beji Depok, seorang dukun yang mempunyai dua ekor macan jadi-jadian yang menjaga rumahnya, malam itu Macan jejadiannya hilang. Ia mencarinya, dan ia menemukan kedua macan jadi2an itu sedang duduk bersimpuh di depan pintu masjid mendengarkan ceramah Habib Munzir.

Demikian pula ketika berapa muridnya berangkat ke Kuningan Cirebon, daerah yang terkenal dengan ahli santet dan jago-jago sihirnya, maka Habib Munzir menepuk bahu muridnya dan berkata, "MA’ANNABIY..! Berangkatlah, Rasul saw bersama kalian.." Maka saat mereka membaca maulid, tiba tiba terjadi angin ribut yang mengguncang rumah itu dengan dahsyat. Lalu mereka minta kepada Allah perlindungan, dan teringat Habib Munzir dalam hatinya, tiba tiba angin ribut reda, dan mereka semua mencium minyak wangi Habib Munzir yang seakan lewat di hadapan mereka. Dan kemudian terdengarlah ledakan bola bola api di luar rumah yang tak bisa masuk kerumah itu. Ketika mereka pulang, mereka menceritatkannya pada Habib Munzir, dan beliau hanya senyum dan menunduk malu.

Demikian pula pedande pndande Bali, ketika Habib Munzir berkunjung ke Bali, maka berkata muslimin di sana, "Habib, semua hotel penuh, kami tempatkan Habib di tempat yang dekat dengan kediaman Raja Leak (raja dukun leak) di Bali." Maka Habib Munzir senyum senyum saja. Keesokan harinya Raja Leak itu berkata, "Saya mencium wangi Raja dari pulau Jawa ada di sekitar sini semalam.."

Mari Kita Hadiahkan Bacaan Surat Al-Fatihah Untuk Beliau.. ALFATIHAH... 



sumber : Kumpulan Karomah Syaikh Abdul Qodir Jailani Ra

Wali Songo - Syekh Maulana Malik Ibrahim - Kisah Shalat Istisqa'

 
Satu kisah lain yang amat masyhur, yang dikaitkan dengan kewaliannya adalah saat beliau bertemu dengan sekumpulan orang yang tengah mengadakan upacara pengorbanan. Dalam upacara itu sang Dukun yang memimpin upacara telah siap menghujamkan sebilah pisau ke dada gadis cantik yang dijadikan persembahan bagi Dewa Hujan. Kekeringan hebat yang menyengsarakan penduduk dusun itu telah berjalan terlalu lama. Gadis itu adalah gadis ketiga yang dipersembahkan ke altar eksekusi setelah yang dua lainnya belum juga membuat hujan turun dari langit.

Dari kejauhan Syekh Malik berteriak lantang mencegah praktik kesyirikan itu, tetapi terlambat, ujung pisau telah sampai ke dada si gadis malang, namun keajaiban terjadi, pisau itu tak mampu menembus dadanya. Si dukun merasa ada kekuatan gaib yang menghadang tenaganya menakan pisau ke dada. Sampai kemudian si dukun terlempar jauh.

Tahulah si dukun setelah Syekh Malik mendekat, dan kejadian itu adalah ulah laki-laki asing yang berdiri didepannya. Dengan rasa marah menggumpal, si dukun menanyakan kenapa Syekh Malik menghalangi pelaksanaan upacara itu. “Sudah berapa gadis yang dikorbankan?” tanya Syekh Malik. “Dua,” jawab si dukun itu. “Apakah setelah dua nyawa itu melayang, hujan turun?” tanya Syekh Malik lagi. Si dukun terdiam. Memang setelah dua persembahan lalu, Dewa Hujan belum juga bermurah hati menurunkan airnya. Tetapi ia meyakini setelah yang ketiga ini, Dewa Hujan akan mengabulkan permohonannya, yang juga merupakan permohonan semua penduduk dusun itu.

Sesaat setelah menyadari kondisi yang dialami penduduk, Syekh Malik berujar, “Bila hujan dapat turun, masihkah kalian akan mengorbankan gadis ini?”.
“Yang kami inginkan adalah hujan, tuan. Jika hujan turun, kami akan bebaskan gadis itu,” ujar seorang penduduk.

Syekh Malik lalu menjalankan shalat sunnah minta hujan, Shalat Istisqa’. Keikhlasan dan ketaqwaannya yang tinggi membuat shalat itu menemui makbulnya. Hujan turun dengan deras, mengakhiri kekeringan dari tanah dusun tersebut.

Orang-orang yang menyaksikan itu menjadi takjub dan tak kepalang gembiranya. Mereka serentak bersujud seperti menyadari bahwa Syekh Malik adalah seorang dewa. Tetapi Syekh Malik segera mencegah dan menyuruh mereka bangkit. Dengan lembut ia menjelaskan semua adalah berkat keagungan Allah, Tuhan yang sebenarnya, Tuhan yang tidak mereka kenal.

Dengan sebab takjub dan mendapat pencerahan dari sebuah tanda kebesaran Allah yang baru lewat tadi, orang-orang itu menyatakan ketertarikannya pada Islam. Mereka ingin memeluk Islam dan belajar mengenai ajarannya.

Mari Kita Hadiahkan Bacaan Surat Al-Fatihah Untuk Beliau.. ALFATIHAH...

sumber : Kumpulan Karomah Syaikh Abdul Qodir Jailani Ra